Path Facebook Instagram Twitter Google+

Tulisanku di Masa Kecil

Malam ini adalah malam terakhir di tahun 2010. Bersiaplah karena tahun yang baru akan segera tiba dalam hitungan beberapa ribu detik lagi. Sudah punya rencana buat tahun 2011? Keinginan utamaku saat ini adalah menulis. Entah itu menulis kejadian yang kualami, menulis mimpi-mimpiku, menulis yah pokoknya menulis apa saja. Sebenarnya sudah sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis. Seiring bertambahnya usia bertambah pula pengetahuan dan juga keinginan. Kalau di kumpulin bisa setinggi gunung merapi kali :D hehehe. Mencoba mengingat kembali masa kanak-kanak yang indah yang tidak terlalu stres memikirkan hidup, aku menemukan keinginanku ini ketika menemukan kembali komik Dragon Ball yang sudah terkubur dalam rak buku usang yang sudah bertahun lamanya tak terjamah. Aku ingat bahwa dulu aku sering menuliskan beberapa kisahku pada lembaran-lembaran loose leaf berukuran A4 yang aku beli dari penjual yang biasa mangkal di depan sekolah SDku dulu. Lembaran unik itu memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi depan bergambar dan tentunya gambar-gambar yang aku beli adalah gambar jagoan favoritku Son Goku. Sisi belakang itulah yang aku gunakan untuk menulis cerita.

 

Gak kelihatan? Oke aku tulis lagi deh disini.
Tanggal 14-2-1999
Hai kawan-kawan saya mau ceritani. cerita tentang DRAGON BALL -
Yang seperti di depan. saya suka kertas ini dan juga filmnya -
Ini karanganku yang kedua. nah sekarang cerita akan dimulai
Aku sangat suka film DRAGON BALL yang sekarang diganti DRAGON -
BALL Z. teman-teman saya mau cerita sun goku ternyata -
supu saiya yang jahat kakak goku telah dibunuh pikolo -
dam ditahan oleh goku sampai goku ikut mati nama asli goku -
adalah kakaroto dan sun gohan anak goku dilati pikolo -
sampai 1 tahun dan supu saiya lain datang lagi goku masih
di jalur naga suda mau sampai di tempat raja emperor -
dan di latih sampai 1 tahun dan goku kembali sudah banyak -
yang mati pikolo,yangca,caoz,tensihan yang tersisa kerilin -
dan gohan dan nama supu saiya bejita dan napa napa ber -
tarung dengan kerilin dan gohan napa tidak bisa menahan
dan dibunu bejita sendiri dan napa mati juga dan seka -
rang kerilin,gohan,danbulma pergi ke planet namec -
untuk mencari dragenbool dan menemukan musuh baru

 

 

Hihihi.. lucu banget ya :D. Tulisannya masih amburadul sana sini. Tahun 1999 berarti masih kelas 2 SD ding! :lol: jangan disalahin deh kalau tulisannya masih banyak kesalahan tanda baca dan kurang satu huruf belakang. Lalu bagaimana ceritanya kok bisa pengen jadi penulis? Hm.. begini. Waktu itu kan memang film kartun (sebutanku kala itu) Dragon Ball memang sangat digemari anak kecil dan aku rasa sampai saat ini juga masih banyak anak kecil yang suka karena masih tayang di Indosiar, lalu aku juga suka baca Lupus Kecil hadiah ultah ke-7 dari kakakku yang berbuah jadi kolektor seri Lupus Kecil :D. Aku pikir bikin film kartun itu cuma nulis cerita terus yang gambar orang lain kayak di Lupus (ada beberapa ilustrasi gambar yang digambar orang lain bukan sang penulis buku itu sendiri) :P hihihi. Demi mewujudkan mimpi masa kecil, aku akan memulai lagi kegiatan tulis menulis :). Semoga di tahun yang baru hilang sudah semua keburukan yang sering kita lakukan dan makin bijak dalam menjalani hidup ini. Amin.

Happy New Year 2011

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Tulisanku di Masa Kecil

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 1)

Semenjak kejadian itu aku tak pernah melihatnya berbicara sekalipun dengan orang lain. Mungkin kondisi kejiwaannya sedikit terganggu apalagi setelah kelakuan konyolnya sempat melakukan tindakan bunuh diri tapi gagal. Bahkan banyak anak kecil yang tertawa-tawa dan mengatainya 'orang gila' saat berpapasan ataupun mereka memang sengaja mencari gara-gara dengan mencarinya di rumah lalu menghinanya. Menurut penuturan orangtuanya sih dia stres akibat ditinggal kekasihnya menikah dengan pria lain. Mungkin bagi beberapa orang hal tersebut terlihat konyol dan menggelikan namun bagi orang-orang yang berperasaan sensitif entah seberat apa rasanya. Sudah setahun peristiwa itu berlalu, tapi pria yang pernah mengajariku bermain layang-layang maupun sepeda ini belum juga bisa melupakan sakit hatinya. Seiring waktu anak-anak nakal sudah tak begitu peduli dan tak mengatainya lagi. Kini dia juga sudah mulai sering terlihat melamun di bangku panjang di bawah pohon rindang yang ada di kebun rumahnya kira-kira sejak seminggu yang lalu. Aku yang dari tadi hanya melihatnya dari dalam rumah mencoba untuk berbicara padanya dengan sangat hati-hati takut perkataanku nanti menyinggung perasaannya.

"Assalamualaikum bang." aku mencoba memberi salam padanya, tapi dia tak menjawab.
"Pagi yang cerah gini enaknya naik sepeda keliling kota bang." Aku mencoba berbasi-basi untuk melihat tanggapannya.

Sejenak dia melihat diriku yang duduk tepat disampingnya lalu kembali menatap langit biru dan menyelam pada lamunannya. Mungkin bukan saat ini waktu yang tepat.

Sepulang sekolah aku tak melihat bang Roy ditempat biasa dia menghabiskan harinya untuk melamun.

"Baru pulang Rid?" Tiba-tiba dari belakang aku mendengar suara dan tangan seseorang memegang bahu kiriku.
"Astaghfirullah." Seketika aku memalingkan wajah.

Ternyata bang Roy yang bertanya, dia baru saja keluar dari gudang rumahnya yang memang terletak tak jauh dari jalan setapak tempatku berdiri sekarang.

"Iya bang. Abang dari mana, kok tumben?"
"Dari sana." Dia hanya menunjuk ke dalam gudang tua yang sempit dan gelap itu.
"Oh, ya sudah bang Farid mau pulang dulu." Sambil meninggalkan senyuman aku kembali berjalan menuju rumahku yang kurang bebera langkah lagi.

Aku senang karena bang Roy mau menyapaku tadi, itu tandanya ada sedikit perkembangan. Hari Jumat sepulang Sholat Jumat di masjid Al-Ikhlas aku bertemu lagi dengan bang Roy di jalan. Rupanya bang Roy yang sudah lama tak terlihat sholat berjamaah baru saja keluar dari masjid dan berjalan tepat beberapa langkah di depanku. Aku mempercepat langkahku demi bisa berbicara padanya.

Bersambung...

 

Terlalu singkat ya? Hehehe.. biarin deh kan masih latihan. Kalau tanya cerita selanjutnya seperti apa, errrrrrrgghhh aku juga belum tahu :P yang baca cerita ini tinggalin komentar dong! Buat yang punya tampang di foto.. hehehe aku dapet dari om Google :D gapapa kan aku pake di blogku? Gapapa kok (berlagak kayak yang punya tampang). Makasih ;)

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 1)

Rp.300.000.000,00

Siang itu masih sama seperti siang-siang yang lalu. Awan mendung menyebar di seluruh sudut kota Surabayaku tercinta. Kelabu, hujan, dan genangan air dimana-mana. Jadwal kuliah yang berubah-ubah pun tak menurunkan semangat untuk terus melangkahkan kaki untuk menuju kampus. Seharusnya hari itu, pada jam-jam seperti saat itu, aku dan teman-teman sudah bisa bersantai atau bermain-main sebentar sepulang kuliah seperti biasanya. Tapi nyatanya hari itu ada jadwal kuliah yang harus kami ikuti setelah kemarin sempat ditunda. Bosan hanya berdiam di kampus, Muklis mengajakku untuk main ke tempat kos teman yang terletak tak jauh dari kampus. Aku yang juga sudah merasa bosan mengiyakan saja ajakannya lalu kami pun segera menuju lift. Tempat belajar kami para mahasiswa ada di lantai 4, pusat dari seluruh kegiatan mahasiswa. Tinggi keseluruhan bangunan tempat itu adalah 6 lantai.

Teman yang akan kami kunjungi ini adalah salah satu teman seperjuangan yang telah meluluskan dirinya sendiri sebelum tiba saatnya untuk lulus. Sudah setengah tahun lebih atau hampir setahun malah kami tak pernah berjumpa dengannya, sebenarnya sudah beberapa kali aku dan Muklis ingin meluangkan waktu sejenak untuk main ke sana tapi sampai saat ini belum juga bisa bertemu dengannya. Kami tidak tau apakah dia masih tinggal di tempat itu atau sudah pindah ke tempat kos lain mengingat sekarang dia kuliah di daerah Ketintang. Tapi masa bodoh, daripada mati bosan di kampus yang amat sangat sepi di siang hari. Begitu sampai di tempat kos temanku itu ternyata pintu pagar terkunci dan tidak ada tetangga rumah kosnya yang keluar. Biasanya sih kami mengetahui keberadaannya ya dari tetangganya itu. Disana kami berdua hanya bisa celingak-celinguk, mondar-mandir kayak orang yang mau mencuri.

"Balik aja deh, tapi lewat sini yuk." Muklis mengajakku menyusuri gang kecil yang terletak tepat di samping rumah kos itu.
"Hm.. Oke." sambil berjalan mengekor dibelakangnya  aku menjawabnya.

Gang itu membawa kami keluar lewat gang lain yang ada disamping masjid yang biasa kami gunakan untuk sholat Jum'at jika ada kuliah pagi sampai siang di hari Jum'at. Tepat saat itu juga adzan dhuhur berkumandang. Seusai sholat kami ngobrol sejenak di serambi masjid sambil bersiap-siap memakai sepatu masing-masing. Tiba-tiba hape di kantong celanaku menjerit memintaku untuk menjawab telepon dari seseorang. Setelah aku lihat nomer tak dikenal yang meneleponku aku memberikan hape pada Muklis.

"Jawab gih, malas aku jawab nomer asing." Muklis pun menerima hapeku dan menjawab telepon dari seseorang yang entah siapa itu.
"Dari bank Danamon." kata Muklis sambil mengembalikan hape padaku.

Setelah orang itu menjelaskan siapakah dirinya, barulah aku tau kalau dia adalah pegawai asuransi yang bekerja sama dengan bank tempatku menabung. Dia menjelaskan bahwa perusahaan asuransinya akan menambah biaya asuransi kematian-KU hingga senilai 300 juta dari yang sebelumnya hanya 10 juta. Aku yang tak begitu berminat dan tidak menyimak setiap kata yang dia sampaikan hanya mengiyakan saja apa yang dia ceritakan padaku. Hingga sampai pada ujung pembicaraan dia bertanya tentang persetujuanku. Aku kembali bertanya padanya, gratis atau bayar? Dia kembali menjelaskan bahwa kenaikan biaya asuransi (sekali lagi) kematian-KU itu akan dipotong 50 ribu tiap bulannya dari tabunganku. Akhirnya tau juga aku kalau asuransi itu tidak lah gratis.

Well, aku pun mencoba untuk menjawab orang itu dengan cara sehalus mungkin, "Gak jadi deh,..." Tuuuut tuuuuut tuuuuuut "mas."

Hehehe, ternyata orang itu memutuskan teleponnya sebelum aku selesai bicara. Sambil tersenyum lalu tertawa ringan aku menatap Muklis yang bertanya-tanya melihat diriku yang tiba-tiba gila mendadak ini. Aku menjelaskan padanya bahwa tadi itu telepon dari orang asuransi yang ingin menaikkan harga kepalaku menjadi 300 juta DEAD OR ALIVE :lol: (berasa jadi seperti Luffy aja nih :P). Sambil meneruskan memakai sepatu dan berhayal tentang cerita kematian yang dibuat-buat demi mendapatkan uang asuransi akhirnya kami pun kembali menghabiskan waktu di kampus hingga sore hari demi mengikuti kuliah yang sempat tertunda tanpa bisa bertemu dengan teman kami itu untuk kesekian kalinya.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Rp.300.000.000,00

Selamat Hari Ibu

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia 

 

Tiada yang bisa kita lakukan untuk mengganti semua kebaikan dan kasih sayang serta doa yang selalu ibu curahkan sepenuhnya untuk anak-anaknya tiada henti. Jika kita terjatuh, ibu akan segera membantu kita untuk bangkit kembali. Jika kita bersedih, ibu akan melakukan apa pun agar bisa membuat kita tersenyum kembali. Jika kita lalai dengan apa yang telah kita perbuat, ibu tak pernah lupa untuk selalu mengingatkan kita. Terima kasih bu, karena ibu adalah ibu nomor satu di dunia :).

My Mom is The best!

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Selamat Hari Ibu