Path Facebook Instagram Twitter Google+

Bukan Video Klip Aslinya

Lagi pengen update...

Aku ngaku kalah sama Tansen. Jangankan ngisi blog tiap seminggu sekali. Sebulan sekali aja belum tentu bisa. Tau kan Tansen yang aku maksud? Ho oh... sosok rekaan Dee yang muncul di Madre.

Penghambat utama aku jarang ngeblog sih tentu faktor kemalasan. Banyak yang mau diungkapin tapi makin ke sini buat buka blog aja malesnya minta ampun. Belum lagi kalo blog gak ada yang komen. Jadi makin males aja toh. Udah capek mikir mau di kasih apaan eh pas udah keisi malah gak ada yang komen. Orang ngeblog kan pada hakikatnya juga pengen diperhatiin. Nah kalo udah ngeblog tapi tetep gak dapet yang namanya perhatian kan sama aja bo'ong.

Udah daripada bete mending nonton video klip yang satu ini. Aku loh yang bikin... hohoho!!!


Ini tuh aslinya tugas kuliah tapi semoga aja bisa keterusan bikin video-video yang lainnya.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Bukan Video Klip Aslinya

Impian Itu Kembali Memancarkan Sinarnya

Malam itu aku tengah menyendiri dalam kamar kos sambil membaca sebuah novel berjenis roman. Sesekali juga tak lupa menengok layar monitor notebook yang sedari tadi kubiarkan menyala. Alunan lembut dari lagu yang ku mainkan juga menemani kesejukan malam. Tanpa terasa kesendirianku menekuri rangkaian kata yang membentuk sebuah epik cerita dalam roman tersebut telah berlangsung dua setengah jam. Aku memutuskan untuk rehat lalu keluar kamar sejenak menyapa dan berbasa-basi dengan penghuni kamar yang lain.

Begitu kembali ke kamar aku menemukan halaman facebook di monitor berkedip. Yuli, teman SMP? Tumben sekali. Sebelumnya aku memang pernah bertukar kabar dengannya melalui sms singkat. Jauh sebelum aku hidup di sini dan sebelum lulus SMA. Itupun hanya saling bertukar informasi ingin kuliah dimana, bersama siapa dan hal kecil lainnya. Selepas itu tak pernah lagi kami berkirim kabar apalagi bertemu.

Dia membuka percakapan melalui jaringan internet itu dengan sebuah pertanyaan, "Gung, wes skripsi a?" Setelah terputusnya arus informasi tentang kabar masing-masing. Apa gerangan yang membuatnya langsung melontarkan pertanyaan tentang skripsi padaku? Aku tersenyum saja. Rupanya kami memang telah lama tidak berkomunikasi. Langsung saja aku jelaskan padanya bahwa kini aku masih menempuh semester ketiga. Awalnya dia heran dan bertanya labih rinci tentang maksud penjelasanku barusan. Menurut ingatannya dulu aku pernah berkata bahwa aku seangkatan dengannya. Aku kembali mengingat rangkaian pertemuanku dengannya selepas SMP. Lalu secuil kejadian berhasil kuingat di benakku. Beberapa waktu lalu aku dan dia memang pernah bertemu lagi. Dua kali malah. Bersama teman-teman SMP yang lainnya juga. Mungkin saat itulah kami bertukar informasi.

Dengan cuek aku mengakui bahwa sebelum pindah ke sini aku pernah kuliah juga di Surabaya. Tanpa menunggu dia bertanya lebih jauh aku mengalihkan topik karena kurasa perbincangan tentang hal itu akan membosankan. Usai meminta nomor ponsel miliknya aku bertanya apa dia suka membaca? Karena sedang terkoneksi dengan internet pula aku merekomendasikan sebuah roman yang banyak mengulas segi arsitektur. Dengan harapan dia akan menyukainya karena itu sesuai dengan kuliah yang telah dia tempuh. Mungkin merasa terlampau aneh, dia mengira kalau aku sedang menawarkan buku daganganku kepadanya. Hahaha.

Yuli

"Fotomu kok awet enom ngono?" aku mengetik pesan tersebut padanya kemudian berkelakar, "Nek aku kan awet tuwek." Dia pun menjawab bahwa wajahnya memang tidak boros, dilanjutkan dengan tawa.

Obrolan terus bergulir hingga akhirnya dia mengungkapkan sesuatu hal. "Aku tertarik dengan jurusanmu. Dari dulu ingin masuk broadcast tapi nggak diberi izin."

Apa yang melatar belakangi dia ingin masuk ke jurusanku? Kalau boleh mengaku sebenarnya aku sendiri masih menyisakan sedikit harapan untuk bisa kuliah di jurusannya. Karena keterikatan cita-cita yang sama-sama tidak kesampaian aku jadi merasa bahwa mungkin hubungan kami setelah ini bisa menjadi lebih dekat. Dia bisa bertanya tentang seluk beluk dunia media padaku. Begitu pula sebaliknya aku bisa bertukar ide mengenai desain interior maupun eksterior padanya. Aku berharap tanpa harus meninggalkan lagi kuliahku saat ini aku juga bisa menggapai impian lain dalam hidupku, tentu itu juga berlaku padanya. Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginan ini.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Impian Itu Kembali Memancarkan Sinarnya

Ekspedisi Ke Bande Alit

Hari Kamis aku menerima pesan singkat dari Sandy. Isinya begini, "Aku sabtu main ke Bande Alit. Mau ikut?"

Dalam batin aku bermonolog. Sabtu... tugas UTS belum ada yang kelar. Ditmbah lagi harus bikin tugas kelompok. Tapi Bande Alit bukan wahana wisata populer. Kalau tidak ikut sekarang kapan lagi aku bisa kesana? Terus sama siapa?

Setelah menetralisir batin yang bergejolak maka aku putuskan meninggalkan tugas kelompok dan pergi berpetualang ke Bande Alit. Maafkan aku rekan sekelompok tata artistik.

Tanggal 20 Oktober. Mulanya kami akan berangkat pukul 7 sesuai rencana. Karena sebab dan akibat yang kurang jelas maka berangkatlah kami pukul... Jreng jreng jreng. Setengah sembilan, molor apa molor nih? Tujuan paling awal adalah rumah Sandy di Wuluhan. Aku berboncengan dengan Putra sementara Sandy bersama Yuli. Sesampainya di sana anggota tim ekspedisi bertambah dua orang, Teguh dan Aris. Aku berangan bahwa perjalnan ini akan sesantai perjalanan ke Papuma. Yah maklumlah kan baru pertama ini.

Saat sampai di kaki bukit taman nasional Meru Betiri barulah tercium aroma perjalanan dan petulngan yang sesungguhnya. Satu-satunya rute untuk mencapai Bande Alit hanya melalui barisan perbukitan ini. Tak ada yang lebih melelahkan selain menunggang kuda besi pemakan bensin ini. Selain bukit yang berkela-kelok. Jalanan pun tak bersahabat. Hamparan bebatuan merupakan jalan terbaik, tak ada jalan beraspal men!

Puncak bukit ditandai dengan portal. Mungkin itu dibuat sebagai penyemangat bagi para pelancong bahwa "Kalian sudah hampir sampai, tinggal separuh perjalanan lagi. Jangan menyerah!" hahaha.

 

Nih ku kasih oleh-oleh video! Yang gak ada dicerita di atas ada di video. Selamat menyaksikan ;)

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Ekspedisi Ke Bande Alit

Bidadari Mungil

“Mini... manis kau di mana?”
Duuuk. Karena serius mencari keberadaan Mini si tikus putih peliharaannya di sepanjang kolong, Nando menabrak kepala seseorang yang sedang berjongkok di ujung meja.
“Auuuw.” pekik orang yang beradu kepala dengan Nando.
“Aduuuh.” Nando pun spontan berteriak lumayan nyaring.
Ibu kos yang kebetulan berada di sekitar sana dan melihat apa yang baru saja terjadi bertanya keheranan pada kedua anak muda itu, “Kalian ini sedang main apa toh?”
Nando yang sudah keluar dari kolong meja langsung nyerocos panjang lebar. Begitu sadar kalau belum meminta maaf atas kecerobohannya pada orang yang ditabrak, dia segera beranjak. Tetapi Nando terpaku melihat sosok gadis mungil yang bertabrakan dengannya tersenyum sangat manis tepat di sampingnya.
“Tadi aku kira ada yang memanggil aku di bawah meja, ternyata sedang mencari tikus.” tutur gadis mungil tersebut.
“Maaf ya, tidak sakit kan?” kata Nando sambil nyengir.
“Iya tidak apa-apa kok” jawab gadis mungil itu kemudian pergi dari TKP.
“Makanya kalau punya peliharaan dijaga yang baik biar tidak merepotkan seperti ini.” kata Ibu Kos.
Nando tidak mendengarkan karena masih terheran-heran atas kemunculan gadis mungil tadi di rumah kosnya.
“Itu tadi siapa Bu?” tanya Nando.
“Keponakan Ibu dari Badung, namanya Mini.”
Pantas saja Nando tidak pernah bertemu dengannya. Senyuman gadis mungil itu sangat manis, batin Nando.
“Jangan-jangan tikusmu dimakan kucing kampung yang suka mencuri lauk makanan di komplek kita.” canda Ibu Kos.
Nando langsung terhenyak.
“Miniiiii.......”
oOo
Syukurlah Mini selamat dari keganasan kucing kampung yang sangat meresahkan warga komplek karena kerap kali mencuri lauk sekaligus mengacak-acak meja makan. Mini sama sekali tidak keluar dari kamar tidur. Dia hanya bersembunyi di selah-selah tumpukan barang-barang yang berserakan.
Setelah tragedi itu Nando merasa bahwa mungkin Mini kesepian. Dia butuh teman bermain layaknya dirinya sendiri yang juga butuh teman saat kesepian. Keesokan harinya sepulang kuliah Nando pergi ke pasar hewan dan membeli seekor tikus putih jantan yang olehnya diberi nama Miki.
Keberadaan Miki membuat Mini terlihat lebih ceria di mata Nando. Terkadang Nando membiarkan Miki dan Mini berkeliaran di dalam kamar agar mereka bisa bermain-main di ruang yang lebih lapang. Kebiasaan memanjakan peliharaan seperti inilah yang memicu tragedi Mini hilang beberapa hari lalu.
Nando mengeluarkan Mini dari kandang pada sore hari tetapi dia lupa kalau belum memasukkan Mini kembali ke dalam kandangnya ketika akan tidur. Pagi hari berikutnya dia panik ketika akan mengganti air minum di kandang Mini karena yang ada dihadapannya hanya kandang kosong.
Begitulah keseharian Nando yang pelupa.
oOo
Rumah kos Nando yang sekarang memang nyaman untuk orang yang tidak suka menghabiskan waktu di luar. Ditambah dengan Ibu Kos dan keluarganya yang ramah semakin membuat penghuninya betah berada di sana walau jauh dari keluarga sendiri.
Gadis mungil keponakan Ibu Kos, sejak tahun ajaran baru juga ikut tinggal di sana. Dia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang masih satu lingkup fakultas dengan Nando. Anak-anak kos sering sekali membicarakannya. Kadang mereka juga menjodoh-jodohkan Nando dengan gadis mungil itu berdasarkan fakta bahwa mereka berdua satu fakultas dan sama-sama pernah menjadi kembar mayang[[1]] di pernikahan putri Ibu Kos sekitar satu tahun yang lalu.
Dua orang kembar mayang perempuan dan seorang kembar mayang laki-laki selain Nando adalah kerabat. Nando juga tak habis pikir mengapa Ibu Kos meminta agar dirinya mau menjadi pelengkap kembar mayang laki-laki, toh masih banyak anak-anak kos yang lain. Tetapi tidak apalah, sekali-sekali membantu pemilik rumah kos, pikir Nando.
oOo
Sebenarnya Nando sudah lupa dengan gadis mungil keponakan Ibu Kos. Mereka bertemu hanya sekali dan hanya sepintas saja ketika Mini si tikus putih Nando hilang. Tetapi gadis mungil itu berhasil mengingatkan kembali Nando bahwa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
“Mininya tidak hilang lagi?” tanya gadis mungil di sebelah Nando ketika sedang menunggu giliran dirias.
Nando sudah lupa dengan tragedi itu karena penyakit lupanya yang lumayan akut, juga karena Mini yang beberapa hari ini terkulai lemas di kandang akhirnya hanya menjawab sekenanya saja, “Tidak. Dia sedang sakit sekarang.”
“Oh.” balas gadis mungil singkat.
Kembar mayang pertama selesai dirias. Gadis mungil itu kemudian masuk ke ruang rias. Di ruang tunggu tersisa Nando dan seorang laki-laki muda bernama Dona, keponakan Ibu Kos juga. Mereka berdua ngobrol kesana kemari hingga tak terasa si gadis mungil telah selesai dirias. Pandangan Nando tak sengaja bertemu ketika si gadis mungil keluar dari ruang rias. Sembari berjalan gadis mungil itu tersenyum sangat manis kepadanya. Senyuman itulah yang berhasil membongkar ingatan Nando akan gadis mungil di kolong meja.
oOo
“Aku tidak pernah mengira bahwa hayalan sesaat ketika termenung tidak ada kerjaan kini menjadi kenyataan.”
“Memangnya hayalan apa mas?”
“Bisa jadi menantu Ibu Kos yang punya putri cantik seperti kamu ini. Serasa di film-film.”
“Ah mas bisa saja kalau menghayal.”
“Mini yang mempertemukan kita. Benturan di kepala yang menyatukan kita.”
Pasangan muda yang baru melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu ini terlarut dalam romantisme suasana langit malam yang bertaburkan bintang-bintang. Mereka duduk di bangku taman belakang vila yang mereka pesan untuk bulan madu.
“Mas dengar ya. Aku mau cerita.” sang istri berkata sambil menyandarkan kepala di dada Nando.
“Sejak pertemuan pertama kita yang unik, aku sudah jatuh hati dengan mas. Kalau dingat-ingat jadi ingin tertawa. Mas Nando mencari Mini di kolong meja. Aku yang merasa dicari pun ikut berjongkok di ujung meja. Tiba-tiba mas Nando menabrak kepalaku. Harusnya aku sebal karena bukan aku yang dicari. Mungkin benturan kepala itu yang membuat aku berbalik seratus delapan puluh derajat jadi suka sama mas.”
Nando tersenyum simpul mendengar cerita yang terucap dari bibir sang istri mungilnya.
“Saat mbak Indy menikah, aku yang bilang ke Ibu supaya menjadikan mas sebagai pelengkap kembar mayang laki-laki. Aku senang karena Ibu mau mengabulkan permintaanku. Tapi seingatku saat itu mas Nando lupa padaku.”
“Aku bersyukur ketika diterima di fakultas yang sama dengan mas. Aku jadi lebih tahu kegiatan sehari-hari  mas di kampus maupun di rumah. Yang paling aku syukuri adalah ketika mas akhirnya meminangku.”
“Mas kok diam saja sih? Dengar ceritaku apa tidak?”
“Bahkan tanpa saling mengucapkan kalimat-kalimat mesra kita sudah punya ikatan batin yang kuat. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu bidadari mungilku.”
Sang istri makin bergelayut manja. Nando pun membelai rambut istri mungilnya.
“Aku tahu bahwa sebenarnya aku ini putri kandung Ibu seminggu sebelum pernikahan Mbak Indy. Mama dan Papa yang sejak kecil aku kenal sebagai orangtuaku mengungkapkan identitasku yang sebenarnya. Ternyata mereka berdua adalah Bude dan Pakdeku.”
“Aku sempat kaget saat mendengar pernyataan mereka tentang diriku. Lalu mereka mengutarakan kegelisahan mereka yang sudah lama dipendam. Sudah sejak enam bulan lalu Papa mengajak Mama untuk segera pindah ke Australia. Tetapi Mama masih bersikeras untuk tetap tinggal kalau belum memberi tahukan padaku tentang identitasku.”
“Aku diberi kebebasan untuk memilih akan ikut dengan siapa setelah peristiwa tersebut. Kemudian aku memutuskan untuk tetap tinggal bersama Mama dan Papa, juga adikku satu-satunya yang merupakan anak kandung dari mereka sampai saat keberangkatan tiba. Atas bujuk rayu Mama yang membuahkan hasil maka Papa lagi-lagi menunda kepindahan ke Australia hingga aku tamat SMA.”
“Seiring waktu aku berusaha menjelaskan kepada adikku yang masih duduk di kelas delapan SMP bahwa aku tidak bisa ikut pindah ke Australia. Berkat bantuan Mama, adikku bisa menerima alasanku untuk tetap tinggal di sini. Aku sungguh senang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga yang telah mengasuhku sejak kecil sebelum mereka benar-benar pindah ke tempat yang asing.”
“Aku sedih sekali waktu berpisah dengan mereka.”
Air mata tergenang di pipi sang istri. Nando mengusap butiran air mata istri mungilnya.
“Maafkan aku mas, suasananya jadi sedih. Aku selalu berdoa agar mas Nando senantiasa menemaniku sampai tua nanti.”
Senyuman yang sangat manis tersungging di bibir sang istri. Masih sama seperti pertemuan pertamanya dengan Nando di rumah kos. Nando mengecup kepala istri mungilnya itu dengan penuh rasa sayang.
“Tentu bidadari mungilku.”


[1]  Kembar mayang,  tradisi adat pernikahan Jawa sebagai penolak balak dan lambang kemakmuran.


Cerita ini pernah aku kirim buat diikutin lomba gitu. Tentu kamu juga tau kan hasilnya gimana. Hahahaha. Kalo menurut penilaian kamu cerita ini seperti apa?

Baca Selengkapnya - Bidadari Mungil