Path Facebook Instagram Twitter Google+
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan

Kamar VIP (Gaya Baru Malam Selatan 2)

Satu stasiun baru saja terlewati namun aku masih terus melangkah demi menemukan tempat untuk duduk maupun sekedar berdiri melepas lelah. Pelukis semesta sudah menuangkan cat warna merah menyala. Matahari mulai bergulir ke barat menyinari belahan dunia lainnya. Beberapa belas menit lagi waktu maghrib akan segera tiba. Lagi-lagi rombonganku tersendat karena banyaknya penjajah makanan dan minuman yang berlalu lalang juga para penumpang lain yang duduk sekenanya di sepanjang jalan di tengah gerbong.

"Sek, macet." abdi negara yang mengajakku ikut rombongannya tadi menoleh dan berkata padaku yang ada di belakangnya.
"Iyo mas." aku menjawabnya sambil tersenyum.

Mereka adalah putra bangsa yang berasal dari kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tanpa bertanya pun aku sudah bisa menebak ketika mendengar intonasi rangkaian suara yang mereka ucapkan, apalagi tadi ada orang yang bertanya pada mereka mau turun dimana, lalu pria paling depan menjawab: Jogja. Sebenarnya aku agak takut juga saat salah satu dari mereka menyuruh yang lain untuk terus melangkah hingga ke lokomotif masinis. Yang kutakutkan adalah bila terjadi kecelakaan, naudzubillah. Bukan maksudku berkeinginan atau berfirasat tidak baik agar terjadi kecelakaan, bukan. Sudah berkali-kali aku mendengar berita tentang kecelakaan kereta yang menyebabkan hilangnya puluhan nyawa. Dan biasanya yang terkena dampak paling parah adalah gerbong depan atau belakang.

 

Lampu di gerbong kereta mulai menyala. Begitu juga lampu-lampu jalanan, rumah-rumah penduduk juga lampu kendaraan yang tertangkap walau hanya sekelebatan saja oleh mata ketika aku menatap jendela. Aku bersandar pada sambungan gerbong ditemani beberapa orang yang juga sedang bersandar. Entah ada di batas gerbong ke berapa aku sekarang. Dua abdi negara rombonganku tadi telah menemukan tempat mereka sendiri di gerbong belakangku, sedangkan aku dan sang kapten yang memimpin kami tadi berada di antara sambungan gerbong mereka dengan gerbong depan. Berada tepat di sambungan ternyata lebih tidak mengenakan. Sempit dan banyak yang pedagang berlalu lalang. Kadang kaki terinjak kadang perut tertohok barang yang mereka bawa, dan ah.. banyak deh. Aku masih mengincar tempat yang nyaman untuk bisa duduk walau harus menekuk anggota tubuh yang lain. Dan tempat itu telah aku temukan, hanya tiga langkah di bawah tempatku berdiri, di dekat pintu masuk gerbong bukan di sambungan! Aku melihat potensi tempat itu cocok sekali untuk duduk, tapi sayangnya orang yang duduk di depan tempat itu menelunjurkan kakinya yang bersepatu kets putih. Setelah mengamati lebih jelas seperti apa wajah dari orang itu yang ternyata juga seorang bocah kira-kira hanya dua tiga tahun diatasku, aku memberanikan diri untuk meminta orang itu menekuk kakinya.

"Lah, ngono lak enak." kata sang kapten yang masih berdiri di sekitar tempat itu juga.

Setelah mengaitkan tas bawaanku di atas, aku pun akhirnya bisa duduk manis di depan orang yang tadi berselunjur kaki. Di sebelah kiriku ada sang kapten masih berdiri, dua orang pria yang mulutnya tak berhenti mengeluarkan asap rokok duduk di sebelah kaki kapten juga seorang mbah yang duduk tepat di depan pintu gerbong bagian kiri sedangkan di sebelah kananku ada rombongan keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan seorang anak gadisnya duduk di atas kardus-kardus, beberapa tas dan koper besar dekat sekali dengan pintu gerbong bagian kanan yang salah satu jendelanya bolong tak berkaca. Aku mencuri-curi pandang melihat wajah gadis itu walau bapaknya tepat disampingku :P. Stasiun Cirebon baru saja terlewati setelah beberapa penumpang baru ikut memeriahkan suasana pesta dalam gerbong kereta ekonomi ini. Aku baru saja membalas SMS dari Tiyas yang menanyakan keadaanku. Padahal baru berpisah berapa menit kok rasanya cemas sekali kalimat pertanyaannya.

 

Dua bocah belasan yang baru saja melintas di sampingku berhasil mendapat tempat duduk di lantai gerbong di samping dinding toilet. Semula aku tak menyadari mengapa pintu toilet selalu tertutup. Begitu ada seorang wanita gemuk yang ingin buang air memaksa masuk ke dalam toilet aku baru tau kalau toilet kereta ekonomi bisa di alih fungsikan menjadi kamar VIP! Mengagumkan, sungguh citarasa PT. KAI, tiada duanya di dunia perkereta apian di negara-negara lain.

Bersambung...

 

Melihat berita kecelakaan kereta api di Banjar - Jawa Barat membuatku ingin melanjutkan lagi kisah perjalanan semalamku berkereta dari Subang ke Surabaya. Kereta Mutiara Selatan yang menjadi berita utama beberapa hari ini karena telah menabrak kereta Kutojaya juga pernah aku tumpangi ketika aku main ke rumah pamanku Suroso untuk pertama kalinya ketika aku masih SMP kelas 2 di temani pamanku Abidin dan saudara sepupuku Diar. Semoga korban meninggal diterima disisiNya dan korban lainnya diberi ketabahan, Amin.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Kamar VIP (Gaya Baru Malam Selatan 2)

Berkelana di Dalam Gerbong (Gaya Baru Malam Selatan 1)

 

Sayup-sayup terdengar suara peluit kereta yang semakin keras. Itulah keretaku. Ular besi yang akan membawaku pulang ke rumah. Lima hari sudah aku berada di kota yang sejuk ini, kini saatnya untuk pulang. Paman menyuruhku supaya segera naik ke dalam kereta. Ini adalah perjalanan panjang pertamaku seorang diri. Hanya ditemani sebuah tas cewek pemberian sepupuku Tiyas karena aku sama sekali tak membawa perlengkapan saat akan menginap di rumah pamanku, bahkan KTP pun aku juga tak membawanya karena dompet sengaja aku tinggal. Sebelum berangkat pamanku yang anggota angkatan udara bertemu beberapa rekan sesama angkatan di stasiun kecil Pegaden Baru ini dan menitipkan aku pada salah satu anak buahnya. Orang yang diberi amanat oleh pamanku ini pastinya adalah orang yang cekatan. Menurut penglihatanku sih dia hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Sebelum naik kereta aku sempat ngobrol sebentar dengannya, dia nantinya akan turun di Madiun.

 

Kereta sudah berhenti. Aku segera berpamitan kepada dua sepupuku yang ikut serta mengantarku ke stasiun. Aku berlarian di belakang para beberapa angkatan udara ini mencari gerbong yang loggar. Kami sudah sampai di ekor kereta namun sayang tak ada satu pun gerbong yang longgar, bahkan ada beberapa gerbong yang sengaja dikunci dari dalam oleh beberapa orang yang tak mau gerbong mereka makin penuh sesak. Peluit kereta mulai berbunyi lagi.

"Gung!! Cepat naik sini!" pamanku terlihat geram melihat kebodohanku berlarian mencari gerbong kosong yang mustahil adanya.

Dengan tergesa dan panik aku segera menuju pintu gerbong yang ada di dekat pamanku itu. Akui sampai lupa mengucapkan salam perpisahan pada pamanku ini karena takut tertinggal kereta. Peluh menetes dari dahiku, aku masih mencari tempat yang enak dan nyaman walau harus berdiri. Kriiieg... Kereta mulai bergoyang.

Tuuuuuuuttt!!! Tuuuuuuuuuuuuuuuuuttt!!!

Perlahan kereta mulai melaju. Inilah saat-saat yang paling aku benci. Entah mengapa ketika aku menjadi pengantar maupun ketika aku menjadi yang diantar, ingin sekali aku melewatkan saat dimana aku harus melihat orang-orang yang aku sayang menjauh dari pandangan. Aku masih bisa melihat pamanku dan dua orang putrinya sedang mencari keberadaanku dari jendela. Aku ingin sekali berteriak aku ada di dalam sini! Aku sudah naik, jangan khawatir! Kereta mulai mempercepat lajunya. Keluarga kecil pamanku ini mulai menjauh dari pandanganku, semakin jauh dan semakin kabur, hingga akhirnya tak terlihat lagi.

 

Pemandangan stasiun sudah terganti dengan pemandangan persawahan yang kian hari kian menguning menunggu panen raya tiba. Aku masih berdiri lesu tak mendapat tempat duduk. Beginilah gambaran nyata sistem transportasi di negara ini, kelas Ekonomi khas PT. KAI. Aku berpapasan dengan orang yang diberi amanat oleh pamanku. Dia tak memandangku sama sekali ketika aku tersenyum saat dia lewat dihadapanku. Cih, sikap orang ini berbalik seratus delapan puluh derajat. Kini aku tau, tadi dihadapan pamanku dia hanya berbasa-basi. Seperti inikah hidup? Oh... ternyata aku hanyalah anak kota yang polos, tak pernah merasakan kejamnya dunia ini. Minta ini tinggal bilang. Minta itu besok sudah dapat. Tak berapa lama aku disapa oleh salah seorang anggota angkatan udara lain yang tadi juga menunggu di stasiun. Dia mengajakku ikut bersama rombongannya menuju gerbong depan. Daripada sendirian disini labih baik aku bergabung bersama gerombolan mereka. Mereka hanya bertiga ditambah diriku jadi berempat. Kami bersinggungan badan dengan banyak penjual yang berlalu lalang. Tak kenal lelah para pedagang ini bagaikan para petani yang sedang panen karena mengingat saat ini masih terhitung hari padat yang sayang sekali kalau dilewatkan setelah libur lebaran. Terkadang kami harus berhenti karena jalanan begitu sesak dengan manusia yang sedang duduk dengan acuhnya di jalanan juga pedagang yang berbondong-bondong dengan barang dagangan yang bukan main banyaknya. Sesekali ada beberapa orang iseng yang bertanya pada tiga abdi negara di depanku ini, mau kemana? Tentara ya? Dan lain sebagainya. Kalau para pedagang sih kalimat yang mereka ucapkan relatif sama, Penuh mas balik aja.

 

Dua gerbong sudah terlewati. Aku tak melihat satu pun tanda-tanda adanya tempat yang nyaman bisa aku buat bersantai sejenak. Kini kami ada di gerbong makanan. Ada dua gadis berkerudung di kursi paling ujung, mereka ditemani bapak-bapak kondektur di sudut yang lain juga beberapa orang yang berdiri di ujung pintu sambungan gerbong belakang dan depan. Jika aku perempuan sih daripada jalan terus mending duduk disini walau digodain sama om om genit petugas KAI.

Bersambung...

 

Fiuuuh... aku pikir sekali hentakan keyboard kisah perjalanan semalamku berkereta api dari Subang sampai ke Surabaya bersama Gaya Baru Malam Selatan bisa langsung selesai. Makin banyak PR cerita bersambung nih jadinya. Oh iya nih, sekedar berbagi info buat yang mau bepergian naik kereta jangan lupa baca dulu tulisanku yang ini.
Nantikan kelanjutannya ya sobat ;) Don't miss it!

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Berkelana di Dalam Gerbong (Gaya Baru Malam Selatan 1)

Perjalanan Menuju Dunia Baru

Tadi pagi aku baru bisa memejamkan mataku pukul dua lebih seperempat setelah rampung menamatkan bacaan bagus karya Nh. Dini yang berjudul Langit dan Bumi Sahabat Kami. Begitu tersadar aku tak tau jam berapa saat itu. Yang aku ingat adalah aku ikut barisan para laki-laki untuk naik ke sebuah kapal. Disana kami bahu membahu dalam segala hal; mulai dari membersihkan kapal, menangkap ikan untuk lauk saat makan, dan masih banyak lagi. Rombongan demi rombongan mulai turun di kota pelabuhan tujuan masing-masing hingga di dalam kapal hanya tinggal segelintir orang saja yang tersisa. Aku tak tau akan turun di mana, tapi aku yakin sekali bahwa tujuanku adalah kota terakhir tempat berlabuh dari kapal yang sedang kami tumpangi ini. Hari berganti dengan begitu cepatnya namun tujuanku belum juga kunjung terlihat. Sore ini bintang-bintang memperlihatkan keindahannya walau bulan hanya tinggal setengahnya saja tak ada awan yang menutupi dan laut begitu tenang. Aku menyimpan surat-surat yang aku sendiri tak tau siapa pengirimnya. Aku membaca lagi salah satu dari surat itu malam ini. Surat yang isinya merupakan potongan-potongan kecil kata yang di gunting rapi lalu dirangkai menjadi beberapa kalimat indah yang selalu membuatku rindu.

"Kau mau kemana bocah?" seorang pria paruh baya berjenggot putih tebal dan berbadan kekar yang biasa aku panggil Pak Jenggot ini begitu tertarik denganku akhir-akhir ini setelah kehilangan banyak teman ngobrol yang sudah turun dari kapal tiba-tiba mengagetkanku.
"Tidak tau Pak, aku mau turun di pemberhentian terakhir."
"Apa kau mau mati hah?" dia memicingkan matanya, "sebaiknya kau segera turun, lima hari lagi mungkin kita sudah sampai di pelabuhan berikutnya."  dia berkata dengan tegas kepadaku lalu pergi begitu saja.

Aku tak tau mengapa dia begitu marah, ada apa di pemberhentian terakhir? Semakin memikirkannya semakin bulat tekadku ingin pergi kesana. Penghuni kapal tinggal selusin orang saja, aku menghabiskan waktu yang tersisa untuk berbincang dengan teman baikku selama di kapal ini. Rencananya dia akan meninggalkan kapal ini di kota pelabuhan yang akan segera kami singgahi empat hari lagi dan dia rasa Pak Jenggot juga akan turun disana. Berkali-kali dia juga berusaha membujukku untuk ikut turun bersamanya tapi aku tetap saja kukuh dengan tujuanku turun di kota labuhan terakhir. Empat hari sudah berlalu, tinggal beberapa jam lagi lima orang akan segera meninggalkan kami termasuk teman baikku Joni dan juga Pak Jenggot.

 

Tujuh orang termasuk aku, beserta seorang Kapten kapal masih berlayar menuju dunia baru. Pulau-pulau mulai terlihat di siang hari dan digantikan dengan cahaya lampu mercusuar di malam hari. Tinggal beberapa hari lagi aku akan sampai di tempat tujuanku. Kapten menyuruh kami untuk segera berkemas dan membersihkan sisa sampah yang masih berserakan sebelum kami benar-benar meninggalkan kapal yang  sudah hampir membawaku selama kurang lebih 4 bulan ini.
Pagi ini aku terbangun karena dikejutkan dengan peringatan dari teman-teman untuk mengamankan diri dan segera mengambil apa saja untuk dijadikan senjata. Ada apa ini? Aku tak ingin jadi satu-satunya yang tak bersenjata dan segera bergegas mencari apa saja sebagai perlindungan untuk diri sendiri. Sambil berlari di belakang Bang Rosi aku yang melihat dayung di belakang pintu segera menyambarnya dan kembali mengikutinya menuju buritan.

"Cepat anak muda!" usai mendorongku ke sebuah ruangan bersama teman-teman yang lain, Kapten bersama Bang Rosi kembali meninggalkan kami.

Ternyata semua orang sudah berkumpul, akulah orang yang terakhir bergabung dalam ruangan itu. Aku mendengar suara orang bersitegang tapi mereka berbicara dengan bahasa apa entahlah aku tak tau. Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat jantungku juga semakin berdegup kencang. Tiba-tiba senapan membombardir tempat kami berlindung.

"Tiaraaaap!!!"

Kami semua yang hanya bersenjata benda tumpul yang keras tak berkutik dan hanya bisa menunduk kaku menunggu mereka masuk dan menghabisi nyawa kami satu persatu. Benar-benar mengerikan, apa yang dibilang Pak Jenggot ternyata bukan main-main. Dunia baru yang aku impikan ternyata begitu ganas. Apakah nyawaku akan berakhir begitu saja di sini? Tanpa pernah menginjakkan kaki di dunia baru? Braak! Pintu terbuka dan aku melihat seseorang bersenjata siap meletus sedang mengarahkan ujung senjatannya pada kami yang meringkuk di lantai bagai tikus.

"Agung Satrio!"
Deg... Jantungku serasa berhenti berdetak.
"Siapa diantara kalian yang bernama Agung Satrio!"

Aku tak berani melihat orang itu, tapi pandangan teman-teman yang mengarah padaku membuat orang itu mendekat padaku lalu bertanya, "Kau yang bernama Agung Satrio?"

Sambil berdiri karena dia menarik lengan kiriku, aku yang ketakutan setengah mati hanya bisa menganggukkan kepala.

"Bagus! Ayo ikut aku."

Dia berjalan begitu cepat dan menghilang tanpa mempedulikanku, aku rasa dia pasti begitu yakin bahwa aku pasti akan mengikutinya. Sempat terlintas dibenakku secepatnya lari ke bagian belakang kapal lalu terjun ke lautan, tapi aku tak mau membahayakan nyawa teman-teman awak kapal yang sudah seperti keluargaku sendiri. Sebelum aku meninggalkan ruangan yang bau amis ini mereka mendoakan agar aku baik-baik saja, aku mengamini dalam hati. Aku yang tengah risau hanya bisa tersenyum meniggalkan mereka.

 

Aku sempat melihat Bang Rosi bersama dengan Kapten masih berada di ruang besar dengan penjagaan tentara-tentara asing ini. Begitu turun dari kapal aku langsung dibawa oleh mereka menggunakan mobil dengan mengikat kedua tanganku terlebih dahulu ke sebuah gedung bagus di pusat kota. Syukurlah, aku masih bisa sedikit bernafas lega karena mereka tidak atau lebih tepatnya belum mau membunuhku. Aku ditempatkan di sebuah ruangan kecil sendirian tanpa diberi makan hingga aku lelah sendiri dan terkantuk. Duuuar!!! Semua rasa kantukku lenyap begitu saja setelah mendengar ledakan hebat barusan. Apa gerangan yang terjadi? Lorong di depan ruang kecil tempat aku ditahan tiba-tiba begitu ramai. Aku ketakutan dan lari menuju pintu. Aku putar gagang pintu, oh, ternyata pintu terbuka begitu saja. Aku pun mengikuti orang yang berlalu lalang yang berlari menuju pintu keluar.

Begitu terkejutnya aku ketika melihat ke angkasa melalui jendela. Superman! Dalam ukuran raksasa!!! Suara yang benar-benar bising terdengar dari sisi lain lalu tiba-tiba muncul monster raksasa. Ya Allah, ada di mana aku ini??? Aku mencubiti pipiku keras-keras. Kalau menurut kepercayaan orang, mencubit pipi lalu terasa sakit maka itu bukan mimpi. Kalau begitu seperti ini kah dunia baru yang sesungguhnya? Aku benar-benar bingung tapi tetap berlari bersama orang-orang untuk segera keluar dari gedung ini. Ternyata pintu keluar yang kami tuju adalah pintu belakang. Entah masih bertarung atau sudah selesaikah Superman yang berukuran raksasa itu dengan monster yang baru saja keluar dari perut bumi tadi. Aku masih berlari hingga sampai di jalan besar. Orang-orang sudah menghilang menyelamatkan dirinya masing-masing. Masih terengah-engah aku melihat ada barisan pasukan pengibar bendera sedang berjalan beriringan menurut posisinya menuju ke arahku. Dalam keadaan seperti ini masih berlatih paskib? Ah, sudahlah. Aku menyelinap menjadi satu dalam barisan mereka. Sungguh tak bisa dipercaya, aku masih bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada dimana aku ini? Sambil mengamati wajah orang-orang disekelilingku saat ini, rupa-rupanya aku menemukan seseorang yang kukenal dibarisan yang ada tak jauh di belakangku. Begitu senangnya bisa bertemu kembali dengannya, Arifah.

Aku memperlambat langkahku agar aku bisa berjalan sejajar dengannya, tapi begitu kami sejajar, dia langsung memberiku bendera beserta tiangnya padaku untuk diletakkan di pundak seperti yang lain. Aku menerimanya walau tak mengerti apa maksudnya. Di samping barisan kami ada seorang juru foto yang dari tadi membidikkan kameranya pada kami yang tengah berjalan dalam barisan yang rapi. Selagi kameranya tak menutupi wajahnya lagi-lagi aku terkejut. Aku juga mengenal orang itu. Dia kakak kelasku waktu SD dan juga SMP, bahkan dia juga kakak dari temanku. Apa dunia baru adalah kampung halamanku? Latihan baris-berbaris telah usai. Ketika aku mau menemui Arifah, dia hanya tersenyum lalu memberiku sebuah buku yang bagus sekali sampulnya. Lalu dia menghilang dari pandanganku. Aku yang yakin bahwa dunia yang baru beberapa saat aku pijak ini adalah kampung halamanku kembali berjalan melangkahkan kaki kemana saja mengikuti kata hati. Tidak beberapa lama aku mendengar suara anak-anak yang sedang bermain, suara ini terdengar begitu akrab di telingaku. Ketika aku mengikuti asal suara itu ternyata aku sudah tiba dirumah. Itu adalah suara Nanda dan Ninda yang sedang bermain. Senangnya hatiku, akhirnya aku selamat sampai tujuan :)
Aku terbangun dari mimpi indahku ketika waktu subuh hampir tiba.

 

Surabaya, 9 Januari 2011

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Perjalanan Menuju Dunia Baru

Tulisanku di Masa Kecil

Malam ini adalah malam terakhir di tahun 2010. Bersiaplah karena tahun yang baru akan segera tiba dalam hitungan beberapa ribu detik lagi. Sudah punya rencana buat tahun 2011? Keinginan utamaku saat ini adalah menulis. Entah itu menulis kejadian yang kualami, menulis mimpi-mimpiku, menulis yah pokoknya menulis apa saja. Sebenarnya sudah sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis. Seiring bertambahnya usia bertambah pula pengetahuan dan juga keinginan. Kalau di kumpulin bisa setinggi gunung merapi kali :D hehehe. Mencoba mengingat kembali masa kanak-kanak yang indah yang tidak terlalu stres memikirkan hidup, aku menemukan keinginanku ini ketika menemukan kembali komik Dragon Ball yang sudah terkubur dalam rak buku usang yang sudah bertahun lamanya tak terjamah. Aku ingat bahwa dulu aku sering menuliskan beberapa kisahku pada lembaran-lembaran loose leaf berukuran A4 yang aku beli dari penjual yang biasa mangkal di depan sekolah SDku dulu. Lembaran unik itu memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi depan bergambar dan tentunya gambar-gambar yang aku beli adalah gambar jagoan favoritku Son Goku. Sisi belakang itulah yang aku gunakan untuk menulis cerita.

 

Gak kelihatan? Oke aku tulis lagi deh disini.
Tanggal 14-2-1999
Hai kawan-kawan saya mau ceritani. cerita tentang DRAGON BALL -
Yang seperti di depan. saya suka kertas ini dan juga filmnya -
Ini karanganku yang kedua. nah sekarang cerita akan dimulai
Aku sangat suka film DRAGON BALL yang sekarang diganti DRAGON -
BALL Z. teman-teman saya mau cerita sun goku ternyata -
supu saiya yang jahat kakak goku telah dibunuh pikolo -
dam ditahan oleh goku sampai goku ikut mati nama asli goku -
adalah kakaroto dan sun gohan anak goku dilati pikolo -
sampai 1 tahun dan supu saiya lain datang lagi goku masih
di jalur naga suda mau sampai di tempat raja emperor -
dan di latih sampai 1 tahun dan goku kembali sudah banyak -
yang mati pikolo,yangca,caoz,tensihan yang tersisa kerilin -
dan gohan dan nama supu saiya bejita dan napa napa ber -
tarung dengan kerilin dan gohan napa tidak bisa menahan
dan dibunu bejita sendiri dan napa mati juga dan seka -
rang kerilin,gohan,danbulma pergi ke planet namec -
untuk mencari dragenbool dan menemukan musuh baru

 

 

Hihihi.. lucu banget ya :D. Tulisannya masih amburadul sana sini. Tahun 1999 berarti masih kelas 2 SD ding! :lol: jangan disalahin deh kalau tulisannya masih banyak kesalahan tanda baca dan kurang satu huruf belakang. Lalu bagaimana ceritanya kok bisa pengen jadi penulis? Hm.. begini. Waktu itu kan memang film kartun (sebutanku kala itu) Dragon Ball memang sangat digemari anak kecil dan aku rasa sampai saat ini juga masih banyak anak kecil yang suka karena masih tayang di Indosiar, lalu aku juga suka baca Lupus Kecil hadiah ultah ke-7 dari kakakku yang berbuah jadi kolektor seri Lupus Kecil :D. Aku pikir bikin film kartun itu cuma nulis cerita terus yang gambar orang lain kayak di Lupus (ada beberapa ilustrasi gambar yang digambar orang lain bukan sang penulis buku itu sendiri) :P hihihi. Demi mewujudkan mimpi masa kecil, aku akan memulai lagi kegiatan tulis menulis :). Semoga di tahun yang baru hilang sudah semua keburukan yang sering kita lakukan dan makin bijak dalam menjalani hidup ini. Amin.

Happy New Year 2011

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Tulisanku di Masa Kecil