Toko Pucuk
Kamar VIP (Gaya Baru Malam Selatan 2)
Satu stasiun baru saja terlewati namun aku masih terus melangkah demi menemukan tempat untuk duduk maupun sekedar berdiri melepas lelah. Pelukis semesta sudah menuangkan cat warna merah menyala. Matahari mulai bergulir ke barat menyinari belahan dunia lainnya. Beberapa belas menit lagi waktu maghrib akan segera tiba. Lagi-lagi rombonganku tersendat karena banyaknya penjajah makanan dan minuman yang berlalu lalang juga para penumpang lain yang duduk sekenanya di sepanjang jalan di tengah gerbong.
"Sek, macet." abdi negara yang mengajakku ikut rombongannya tadi menoleh dan berkata padaku yang ada di belakangnya.
"Iyo mas." aku menjawabnya sambil tersenyum.
Mereka adalah putra bangsa yang berasal dari kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tanpa bertanya pun aku sudah bisa menebak ketika mendengar intonasi rangkaian suara yang mereka ucapkan, apalagi tadi ada orang yang bertanya pada mereka mau turun dimana, lalu pria paling depan menjawab: Jogja. Sebenarnya aku agak takut juga saat salah satu dari mereka menyuruh yang lain untuk terus melangkah hingga ke lokomotif masinis. Yang kutakutkan adalah bila terjadi kecelakaan, naudzubillah. Bukan maksudku berkeinginan atau berfirasat tidak baik agar terjadi kecelakaan, bukan. Sudah berkali-kali aku mendengar berita tentang kecelakaan kereta yang menyebabkan hilangnya puluhan nyawa. Dan biasanya yang terkena dampak paling parah adalah gerbong depan atau belakang.
Lampu di gerbong kereta mulai menyala. Begitu juga lampu-lampu jalanan, rumah-rumah penduduk juga lampu kendaraan yang tertangkap walau hanya sekelebatan saja oleh mata ketika aku menatap jendela. Aku bersandar pada sambungan gerbong ditemani beberapa orang yang juga sedang bersandar. Entah ada di batas gerbong ke berapa aku sekarang. Dua abdi negara rombonganku tadi telah menemukan tempat mereka sendiri di gerbong belakangku, sedangkan aku dan sang kapten yang memimpin kami tadi berada di antara sambungan gerbong mereka dengan gerbong depan. Berada tepat di sambungan ternyata lebih tidak mengenakan. Sempit dan banyak yang pedagang berlalu lalang. Kadang kaki terinjak kadang perut tertohok barang yang mereka bawa, dan ah.. banyak deh. Aku masih mengincar tempat yang nyaman untuk bisa duduk walau harus menekuk anggota tubuh yang lain. Dan tempat itu telah aku temukan, hanya tiga langkah di bawah tempatku berdiri, di dekat pintu masuk gerbong bukan di sambungan! Aku melihat potensi tempat itu cocok sekali untuk duduk, tapi sayangnya orang yang duduk di depan tempat itu menelunjurkan kakinya yang bersepatu kets putih. Setelah mengamati lebih jelas seperti apa wajah dari orang itu yang ternyata juga seorang bocah kira-kira hanya dua tiga tahun diatasku, aku memberanikan diri untuk meminta orang itu menekuk kakinya.
"Lah, ngono lak enak." kata sang kapten yang masih berdiri di sekitar tempat itu juga.
Setelah mengaitkan tas bawaanku di atas, aku pun akhirnya bisa duduk manis di depan orang yang tadi berselunjur kaki. Di sebelah kiriku ada sang kapten masih berdiri, dua orang pria yang mulutnya tak berhenti mengeluarkan asap rokok duduk di sebelah kaki kapten juga seorang mbah yang duduk tepat di depan pintu gerbong bagian kiri sedangkan di sebelah kananku ada rombongan keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan seorang anak gadisnya duduk di atas kardus-kardus, beberapa tas dan koper besar dekat sekali dengan pintu gerbong bagian kanan yang salah satu jendelanya bolong tak berkaca. Aku mencuri-curi pandang melihat wajah gadis itu walau bapaknya tepat disampingku :P. Stasiun Cirebon baru saja terlewati setelah beberapa penumpang baru ikut memeriahkan suasana pesta dalam gerbong kereta ekonomi ini. Aku baru saja membalas SMS dari Tiyas yang menanyakan keadaanku. Padahal baru berpisah berapa menit kok rasanya cemas sekali kalimat pertanyaannya.
Dua bocah belasan yang baru saja melintas di sampingku berhasil mendapat tempat duduk di lantai gerbong di samping dinding toilet. Semula aku tak menyadari mengapa pintu toilet selalu tertutup. Begitu ada seorang wanita gemuk yang ingin buang air memaksa masuk ke dalam toilet aku baru tau kalau toilet kereta ekonomi bisa di alih fungsikan menjadi kamar VIP! Mengagumkan, sungguh citarasa PT. KAI, tiada duanya di dunia perkereta apian di negara-negara lain.
Bersambung...
Melihat berita kecelakaan kereta api di Banjar - Jawa Barat membuatku ingin melanjutkan lagi kisah perjalanan semalamku berkereta dari Subang ke Surabaya. Kereta Mutiara Selatan yang menjadi berita utama beberapa hari ini karena telah menabrak kereta Kutojaya juga pernah aku tumpangi ketika aku main ke rumah pamanku Suroso untuk pertama kalinya ketika aku masih SMP kelas 2 di temani pamanku Abidin dan saudara sepupuku Diar. Semoga korban meninggal diterima disisiNya dan korban lainnya diberi ketabahan, Amin.
Berkelana di Dalam Gerbong (Gaya Baru Malam Selatan 1)
Sayup-sayup terdengar suara peluit kereta yang semakin keras. Itulah keretaku. Ular besi yang akan membawaku pulang ke rumah. Lima hari sudah aku berada di kota yang sejuk ini, kini saatnya untuk pulang. Paman menyuruhku supaya segera naik ke dalam kereta. Ini adalah perjalanan panjang pertamaku seorang diri. Hanya ditemani sebuah tas cewek pemberian sepupuku Tiyas karena aku sama sekali tak membawa perlengkapan saat akan menginap di rumah pamanku, bahkan KTP pun aku juga tak membawanya karena dompet sengaja aku tinggal. Sebelum berangkat pamanku yang anggota angkatan udara bertemu beberapa rekan sesama angkatan di stasiun kecil Pegaden Baru ini dan menitipkan aku pada salah satu anak buahnya. Orang yang diberi amanat oleh pamanku ini pastinya adalah orang yang cekatan. Menurut penglihatanku sih dia hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Sebelum naik kereta aku sempat ngobrol sebentar dengannya, dia nantinya akan turun di Madiun.
Kereta sudah berhenti. Aku segera berpamitan kepada dua sepupuku yang ikut serta mengantarku ke stasiun. Aku berlarian di belakang para beberapa angkatan udara ini mencari gerbong yang loggar. Kami sudah sampai di ekor kereta namun sayang tak ada satu pun gerbong yang longgar, bahkan ada beberapa gerbong yang sengaja dikunci dari dalam oleh beberapa orang yang tak mau gerbong mereka makin penuh sesak. Peluit kereta mulai berbunyi lagi.
"Gung!! Cepat naik sini!" pamanku terlihat geram melihat kebodohanku berlarian mencari gerbong kosong yang mustahil adanya.
Dengan tergesa dan panik aku segera menuju pintu gerbong yang ada di dekat pamanku itu. Akui sampai lupa mengucapkan salam perpisahan pada pamanku ini karena takut tertinggal kereta. Peluh menetes dari dahiku, aku masih mencari tempat yang enak dan nyaman walau harus berdiri. Kriiieg... Kereta mulai bergoyang.
Tuuuuuuuttt!!! Tuuuuuuuuuuuuuuuuuttt!!!
Perlahan kereta mulai melaju. Inilah saat-saat yang paling aku benci. Entah mengapa ketika aku menjadi pengantar maupun ketika aku menjadi yang diantar, ingin sekali aku melewatkan saat dimana aku harus melihat orang-orang yang aku sayang menjauh dari pandangan. Aku masih bisa melihat pamanku dan dua orang putrinya sedang mencari keberadaanku dari jendela. Aku ingin sekali berteriak aku ada di dalam sini! Aku sudah naik, jangan khawatir! Kereta mulai mempercepat lajunya. Keluarga kecil pamanku ini mulai menjauh dari pandanganku, semakin jauh dan semakin kabur, hingga akhirnya tak terlihat lagi.
Pemandangan stasiun sudah terganti dengan pemandangan persawahan yang kian hari kian menguning menunggu panen raya tiba. Aku masih berdiri lesu tak mendapat tempat duduk. Beginilah gambaran nyata sistem transportasi di negara ini, kelas Ekonomi khas PT. KAI. Aku berpapasan dengan orang yang diberi amanat oleh pamanku. Dia tak memandangku sama sekali ketika aku tersenyum saat dia lewat dihadapanku. Cih, sikap orang ini berbalik seratus delapan puluh derajat. Kini aku tau, tadi dihadapan pamanku dia hanya berbasa-basi. Seperti inikah hidup? Oh... ternyata aku hanyalah anak kota yang polos, tak pernah merasakan kejamnya dunia ini. Minta ini tinggal bilang. Minta itu besok sudah dapat. Tak berapa lama aku disapa oleh salah seorang anggota angkatan udara lain yang tadi juga menunggu di stasiun. Dia mengajakku ikut bersama rombongannya menuju gerbong depan. Daripada sendirian disini labih baik aku bergabung bersama gerombolan mereka. Mereka hanya bertiga ditambah diriku jadi berempat. Kami bersinggungan badan dengan banyak penjual yang berlalu lalang. Tak kenal lelah para pedagang ini bagaikan para petani yang sedang panen karena mengingat saat ini masih terhitung hari padat yang sayang sekali kalau dilewatkan setelah libur lebaran. Terkadang kami harus berhenti karena jalanan begitu sesak dengan manusia yang sedang duduk dengan acuhnya di jalanan juga pedagang yang berbondong-bondong dengan barang dagangan yang bukan main banyaknya. Sesekali ada beberapa orang iseng yang bertanya pada tiga abdi negara di depanku ini, mau kemana? Tentara ya? Dan lain sebagainya. Kalau para pedagang sih kalimat yang mereka ucapkan relatif sama, Penuh mas balik aja.
Dua gerbong sudah terlewati. Aku tak melihat satu pun tanda-tanda adanya tempat yang nyaman bisa aku buat bersantai sejenak. Kini kami ada di gerbong makanan. Ada dua gadis berkerudung di kursi paling ujung, mereka ditemani bapak-bapak kondektur di sudut yang lain juga beberapa orang yang berdiri di ujung pintu sambungan gerbong belakang dan depan. Jika aku perempuan sih daripada jalan terus mending duduk disini walau digodain sama om om genit petugas KAI.
Bersambung...
Fiuuuh... aku pikir sekali hentakan keyboard kisah perjalanan semalamku berkereta api dari Subang sampai ke Surabaya bersama Gaya Baru Malam Selatan bisa langsung selesai. Makin banyak PR cerita bersambung nih jadinya. Oh iya nih, sekedar berbagi info buat yang mau bepergian naik kereta jangan lupa baca dulu tulisanku yang ini.
Nantikan kelanjutannya ya sobat ;) Don't miss it!
Catur (Bolosnya Developers 3)
Edo yang dari tadi diam saja membaca koran hanya sesekali menyimak permainan catur kami bila tiba-tiba suasana menjadi ramai sendiri oleh suara salah satu dari aku atau Lanang yang salah melangkah. Wahyu yang baru datang pun juga langsung menyimak sambil berkomentar ini itu. Setelah menjalankan beberapa bidak, putaran ketiga akhirnya selesai juga tentu saja masih dengan kemenangan dipihakku. Wahyu yang sudah geregetan dari tadi ingin menghajar telak kami semua mulai menantangku.
"Yang lain Yu, capek aku gak ada yang bisa ngalahin."
"Alaaah.. bilang aja gak berani. Takut kalah kan? Haha" Lanang berusaha memanaskan suasana agar dia bisa tertawa lepas ketika aku kalah.
"Ah, Nyol pengecut!" Muklis ikut-ikuan berkelakar.
"Hahaha.. terserah kalian pokoknya aku istirahat dulu."
"Ayo, siapa aja deh yang mau main." Wahyu masih menunggu seseorang menerima tantangan darinya.
Tanpa berlama-lama lagi Lanang segera memenuhi tantangan Wahyu. Satu-persatu pion mulai melangkah maju ke garis depan meninggalkan sang raja. Pertempuran pun tak bisa dihindari. Kuda mulai berlari kesana kemari sambil sesekali melompati bidak-bidak lain. Menteri pun tak mau hanya berdiam diri bersanding di samping sang raja tanpa menumpas pasukan lawan. Gajah yang telah menemukan celah juga mulai mengoyak pertahanan lawan. Beberapa bidak mulai tumbang. Raja yang ketakutan mulai berlindung di bawah naungan benteng setelah . Teknik dan cara Wahyu bermain menurutku adalah menebar ketakutan. Bagaimana tidak, dia tak begitu mempedulikan berapa banyak bidak yang berhasil dia singkirkan dari papan permainan tapi dia lebih mementingkan cara untuk bisa membunuh sang raja tanpa perlu menghabisi banyak bidak tak berdosa. Kalau dia dijadikan pengatur strategi dalam peperangan yang sesungguhnya sudah dipastikan sang raja tak akan bisa tidur nyenyak. Beda Wahyu beda pula Lanang, setelah terlihat bahwa dia sudah dalam posisi terjepit walau masih bisa melakukan beberapa langkah lagi, dia sudah menyerah sebelum Wahyu benar-benar berkata "Skak mat!!!"
Putaran keempat dijawarai oleh Wahyu sang pendatang baru. Hujan masih rintik-rintik dan waktu pun tak kami hiraukan. Aku mempersilahkan Muklis untuk bermain terlebih dahulu karena aku tau putaran ini tak kan butuh banyak waktu. Gaya bermain Muklis yang asal-asalan membuatku berkata padanya bahwa aku bisa menang mudah sambil menutup mata kalau bermain melawan dia. Setelah kekalahan Muklis maka kini tiba giliranku kembali tampil. Kalau kalian bertanya bagaimana dengan Edo? Kenapa kami tak memberi kesempatan dia untuk bermain? Dia masih sibuk membaca koran. Masih dengan percaya diri aku melangkahkan bidakku menuju awal kekalahan yang bertubi dari Wahyu.
"Persiapan Klis, kalau Nyol kalah kita tertawa bersama." Lanang berkata pada Muklis yang ada di samping kiriku.
"Oke.. sip!"
"Hahaha. Aku juga ikut!" Edo yang dari tadi hanya membaca koran mulai berkomentar.
Kurang ajar! Senang sekali mereka menertawakan kekalahanku, sial. Akhirnya aku kalah juga dari Wahyu. Piala kemenangan sudah tak bersamaku lagi. Yang lebih parah mereka bertiga tertawa bersama-sama. Sial sial sial!
Entah sudah jam berapa saat itu, tapi datang lagi satu teman kami, Faris. Aku dan Lanang bergantian menjadi bulan-bulanan si Wahyu. Setelah bosan kalah terus kami berdua berkomplot melawan Wahyu. One VS Two! Sejak kapan ada aturan permainan catur seperti itu? Hihihi, tentunya itu aturan yang kami berlakukan sendiri untuk permainan kami. Putaran pertama kami masih belum bisa berkonsentrasi karena belum mau bekerja sama mengatur strategi perang dengan baik yang berbuah kekalahan. Setelah itu kami mencoba melangkah bergantian. Tiga langkah bidak dimainkan Lanang lalu tiga langkah berikutnya aku yang memainkan. Kali ini aku mencoba berbuat lebih nekat. Selama masih ada menteri kami tak kan bisa menang dari Wahyu. Aku terus menyerang menteri miliknya walau harus kehilangan menteriku sendiri hingga tak ada jalan lain selain kami harus saling mengorbankan menteri masing-masing. Tanpa menteri serangan Wahyu tidak begitu ekstrim dan masih bisa ditanggulangi dengan kaburnya sang raja. Lanang yang melihat celah ini memanfaatkan kesempatan untuk menyepak beberapa pion keluar dari papan permainan agar tak tercipta menteri-menteri baru dari generasi penerus bangsa tersebut. Akhirnya kedudukan berbalik. Kami menang dari Wahyu dengan gemilang. Putaran berikutnya kami kalah lagi dan putaran terakhir berhasil kami amankan dengan kemenangan kami.
Bersambung...
Cerita selanjutnya adalah akhir dari kisah para pembolos ini. Jadi jangan sampai terlewatkan ya :D
*nama-nama bidak catur aku peroleh dari sini.
Lanang Wish: Hujan Jangan Berhenti (Bolosnya Developers 2)
"Penuh mas." penjaga warnet mengira kalau kami mau menyewa komputer.
"Nyari temen kok mas." lalu Muklis menjawab.
Sudah belasan kali rasanya aku memasuki warnet yang satu ini. Terakhir ke sini koneksi internet mati beberapa saat lamanya, hingga membuatku malas memainkan lagi komputer sewaanku. Kami mencari keberadaan mereka berdua mulai dari meja nomor 1 yang berada di dekat meja penjaga lurus ke belakang menuju area lesehan yang berada paling ujung. Aha, kami menemukan mereka terselip di dua meja area lesehan, Muklis bergabung dengan Lanang di meja nomor 8 lalu aku sendiri bergabung dengan Edo yang berhadapan tepat di depan mereka di meja nomor 9. Kalian tau apa yang biasa kami kerjakan kalau ke warnet? Bagi kami warnet bukanlah tempat untuk mencari informasi untuk melengkapi tugas-tugas kuliah tetapi untuk bermain game facebook.
Begitu waktu paket sewaan mereka habis tepat pukul 12, aku dan Muklis menitipkan barang bawaan kami pada mereka lalu segera menuju ke masjid yang berada tak jauh dari warnet untuk sholat Jumat. Aku lupa khotib berkutbah tentang apa karena tak berapa lama setelah aku selesai wudhu dan menuju ke lantai 2 mencari tempat kosong untuk sholat tahiyatul masjid, khotib sudah berada pada bagian akhir kutbah pertama yang disambung dengan doa dan sholat pun dimulai setelah kutbah kedua beserta doanya juga sudah disampaikan. Selesai sholat aku langsung mencari tempat nyaman untuk memakai sepatuku. Muklis yang berhasil menemukanku sebenarnya juga ingin memakai sepatunya di bangku yang ada di sebelah kanan bangku yang sedang aku duduki saat ini, tapi sayangnya di sana sudah ada orang lain yang menempati.
"Pakai di rumah Lanang aja, Nyol." dia berusaha melancarkan bujuk rayunya.
"Malas ah. Di sini aja." aku yang tak terpengaruh menjawabnya sambil memakai sepatu sebelah kanan.
Muklis yang gelisah mulai meninggalkanku sambil melirik sesaat masih dengan harapan agar aku mau jalan bersamanya. Saat orang di bangku sebelah mulai beranjak dari tempatnya ternyata Muklis berputar dan segera mengisi bangku kosong di sebelahku. Hihihi, dasar Muklis. Selesai memakai sepatu masing-masing akhirnya kami pun kembali ke rumah Lanang ditemani gerimis yang datang tiba-tiba sambil berlari-lari kecil.
Masih ada sisa waktu setengah jam lagi sebelum masuk. Baru aku mau mengambil dan membaca koran Jawa Pos hari ini tapi Lanang menantangku bermain catur. Demi memberinya kekalahan telak aku pun mengabulkan tantangannya :D. Sambil bermain tak lupa pula dia terus berkata dan memohon agar hujan jangan berhenti. Putaran pertama tak begitu lama ku habiskan tentu saja dengan kemenangan di pihakku. Muklis pun mengambil alih putaran kedua melawanku tapi ternyata tak terasa karena begitu cepatnya dia kalah. Hahaha, senang sekali melihat ekspresi kekalahan mereka dariku :P. Lanang yang masih belum menyerah kembali menantangku untuk kedua kalinya. Kali ini lebih lama karena disela-sela permainan dia juga sedang sibuk ber-SMS. Belum berakhir putaran ketiga ini Wahyu pun datang masih di temani hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Bersambung...
Makin sedikit aja nih ceritanya hehehe... Suka-suka yang bikin :P
Plat Artistik (Bolosnya Developers 1)
Sebelum bercerita aku mau menyampaikan permohonan maaf terlebih dahulu pada Bu Lufi dosenku karena "kami" mahasiswa developer tadi siang membolos berjamaah.
Hari ini hari Jumat, hari yang biasanya libur tak ada kuliah ini terpaksa membuat kami meliburkan sendiri jadwal kuliah yang telah direncanakan dosen kami. Sekitar jam sepuluh lebih beberapa menit Muklis datang ke rumah untuk menjemputku kuliah pagi ini. Begitu selesai mandi dan berpakaian aku pun segera mengajaknya berangkat ke rumah Lanang. Jika masuk siang seperti hari ini kami biasa berkumpul di rumah Lanang terlebih dahulu yang sudah menjadi basecamp walau tak pernah tertulis secara sah. Jalanan Surabaya yang makin hari kian penuh dengan kendaraan bermotor ini membuat perjalanan menuju rumah Lanang terasa lumayan jauh karena kemacetannya. Kalian tau jalan Dr. Soetomo? Kedubes Amerika Serikat? Jika kalian melewati jalan itu mulai pagi hari hingga sore hari atau bisa saja 20 jam per hari dari arah Diponegoro menuju Dinoyo maka aku bisa menjamin bahwa kalian bisa terjebak lampu lalu lintas selama dua putaran lampu merah kalau mengendarai sepeda motor bahkan bisa lebih jika kalian mengendarai mobil. Saat menunggu lampu hijau di pertigaan Polisi Istimewa - Dinoyo, aku menemukan topik pembicaraan bagus dengan Muklis. Aku melihat plat nomor bagian belakang dari sepeda motor di depan kami terbuat dari seng berwarna putih yang nomor kendaraannya ditulis sendiri dengan menggunakan coretan-coretan pulpen hitam.
"Liat deh plat motor di depan itu." aku berkata pada Muklis sambil menunjuk motor di depan kami yang dikendarai oleh seorang cewek, "Hihihi..."
"Wah plat motor tren 2011 tuh, hehehe."
Lampu merah sudah padam maka itu artinya waktunya sepeda motor kami melaju.
Kami belum selesai membicarakan plat nomor tadi setelah mengetahui bahwa plat bagian depan ternyata tak sama dengan plat artistik dibagian belakang. Sambil menerka-nerka mengapa plat belakang bisa jadi seperti itu, Muklis pun berkata, "Aku baru ingat Nyol, dia itu sudah memacu motornya bersama dengan kita sejak masih berada di jalanan rumahmu!"
"Hah??? Bener nih? Apa dia temenku ya? Kalau liat dari motornya sih kayaknya iya." aku yang penasaran menyuruh Muklis memacu kendaraannya agar lebih mendekat dengan si plat artistik.
Ketika motor kami sudah sejajar aku sempat mengamati penunggang plat artistik namun aku tak begitu mengenalinya karena kaca helm serta masker menutupi wajahnya. Sampai akhirnya kami kehilangan dia karena kegesitannya berkendara menerobos lampu lalu lintas yang telah menunjukkan warna darah.
Begitu tiba di rumah Lanang Papanya memberi tau kami kalau Lanang dan Edo lagi asyik nongkrong di warnet langganan dekat rumahnya. Kami pun tak mau ketinggalan dan segera menyusul mereka berdua.
Bersambung...
Cerita ini masih jauh dari kata TAMAT, jadi jangan lupa baca lanjutannya ya karena masih ada beberapa tokoh baru, teman-teman kuliah yang belum pernah aku ceritakan di blog ini akan bermunculan! Stay tune! ;)
Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 3)
Semalam aku sudah mempersiapkan sepedaku dengan baik agar terhindar dari kemungkinan yang tidak diinginkan karena rencananya kami akan berkeliling di pusat kota. Selepas sholat subuh, aku melihat bang Roy yang sudah begitu siap dengan perlengkapan tempurnya lengkap. Aku yang tak mau ketinggalan segera berpamitan pada Ibu dan Bapak. Pukul 5 tepat kami mulai mengayuh sepeda menuju pusat kota yang masih gelap. Menyapa beberapa orang yang tengah olah raga pagi maupun akan pergi ke pasar. Begitu memasuki jalan raya kami juga bertemu dengan para pengendara sepeda lain dan kami pun bergabung bersama mereka menuju kota. Minggu pagi memang enak buat bersepeda, selain jalanan tidak macet seperti hari biasa banyak orang juga yang menyempatkan hari Minggunya itu untuk melancong ke taman-taman kota.
Setelah lelah bersepeda keliling kota, kami pun menuju taman bunga yang ada di jalan Sam Ratulangi. Sungguh begitu ramai taman itu ketika kami tiba. Tepat di tengah-tengah aku melihat beberapa orang sedang melakukan senam aerobik bersama yang dipimpin oleh seorang instruktur. Lain lagi di sebelah selatan, disana banyak anak kecil yang sedang bermain-main karena memang kawasan itu adalah area anak yang terdapat banyak macam permainan. Di sebelah timur adalah tempat bersantai bagi sebagian orang setelah capek berolahraga yang menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman. Lalu disisi utara hingga ke barat adalah tempat terindah yang menjadi rujukan nama dari taman itu. Barisan bunga berjajar rapi mulai dari mawar, melati, bunga sepatu, dan masih banyak lagi. Disana banyak juga anak kecil yang asyik berlarian ingin menangkap kupu-kupu, ada juga satu dua orang yang sedang bergaya di depan seorang tukang foto keliling, dan tidak ketinggalan juga banyak muda-mudi yang berjalan dengan formasi dua orang bergandengan tangan satu sama lain, yang satu tertawa lepas mendengar lelucon dari yang lain.
Disana aku ditraktir makan bakso Malang yang rasanya memang mak nyus. Bang Roy mulai bercerita tentang kekasihnya Tia yang menikah dengan orang lain hingga membuatnya begitu terpukul. Aku menyimak setiap kata yang keluar dari isi hatinya. Dia tidak tau harus berbuat apa setelah mendengar kejadian itu.
"Rasanya ingin mati saja Rid." matanya yang bulat memandangku lekat-lekat.
"Istighfar bang. Mungkin kak Tia bukan jodoh abang, Allah tau yang terbaik buat abang." aku mencoba menghiburnya.
Setelah puas bercerita tentang rasa sakit yang selama ini dikuburnya dalam-dalam padaku, kami pun kembali mengayuh sepeda kembali ke rumah.
Oke.. sepertinya gini aja deh akhir ceritanya :cry:. Aku gak tau mau dikasih konflik seperti apa. Dan lagi sepertinya aku memang gak pandai merangkai kata deh :(. Lain kali deh bikin cerita lagi yang lebih seru :P.
Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 2)
Belum juga aku sampai di dekatnya tiba-tiba gerombolan anak nakal berlari menuju bang Roy lalu berteriak-teriak kencang, "Orang gilaaa.. orang gilaaaa..."
Aku yang jadi naik darah melihat ulah mereka berlari kesana ingin memberi mereka pelajaran, namun bang Roy sudah menakut-nakuti mereka. Tiga anak berlari ke arah kanan menuju gang kecil dan yang lain berlari ke arah kiri masuk ke salah satu rumah yang mungkin tempat tinggal salah satu dari mereka. Bang Roy yang mengetahui aku ada tepat di belakangnya tersenyum dan menungguku untuk melangkah pulang bersamanya.
"Tadi kenapa bang?"
"Biasa anak-anak nakal." Dia menjawab sambil tersenyum simpul.
Syukurlah, ternyata bang Roy tidak benar-benar marah. Aku semakin yakin bahwa bang Roy memang tidak gila, dia hanya mengalami sedikit stres yang membuatnya berperilaku sedikit nyleneh hingga melakukan usaha bunuh diri itu. Ini lah bang Roy yang aku kenal selama ini, bang Roy yang murah senyum. Sesampainya di rumah aku bercerita pada Ibu tentang keadaan bang Roy yang sudah membaik seperti dulu lagi. Ibu senang mendengarnya dan menyuruhku memberikan oleh-oleh yang kemarin dibawakan oleh paman dari desa pada bang Roy.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab bi Inem dengan suara cempreng yang begitu keras.
Aku bertanya pada bi Inem, "Bang Roy ada bi? Ini mau aku kasih oleh-oleh Wingko Babat dari pamanku."
"Ada den, tunggu sebentar ya. Oh iya, oleh-olehnya biar bibi aja yang bawain." bi Inem pun masuk kembali ke dalam rumah bersama oleh-oleh yang ku bawa.
Tak sampai satu menit bang Roy sudah ada di depanku. Dia mengajakku untuk ngobrol di tempat yang biasa dia gunakan untuk melamun sebelum dia kembali menjadi ceria seperti sekarang. Sambil makan oleh-oleh yang kubawakan bang Roy mulai bercerita.
"Enak banget Rid. Beli dimana?"
"Oleh-oleh dari paman bang."
"Oh... makasih ya."
"Iya bang sama-sama."
Di akhir pembicaraan bang Roy mengajakku bersepeda hari Minggu besok. Aku langsung saja mengiyakan ajakannya karena memang sudah lama kami tak bersepeda bersama.
Bersambung...
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit
Fiuuuuh... cerita selanjutnya gimana lagi ya enaknya??? Tauk deh pikir ntar aja :P.
Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 1)
Semenjak kejadian itu aku tak pernah melihatnya berbicara sekalipun dengan orang lain. Mungkin kondisi kejiwaannya sedikit terganggu apalagi setelah kelakuan konyolnya sempat melakukan tindakan bunuh diri tapi gagal. Bahkan banyak anak kecil yang tertawa-tawa dan mengatainya 'orang gila' saat berpapasan ataupun mereka memang sengaja mencari gara-gara dengan mencarinya di rumah lalu menghinanya. Menurut penuturan orangtuanya sih dia stres akibat ditinggal kekasihnya menikah dengan pria lain. Mungkin bagi beberapa orang hal tersebut terlihat konyol dan menggelikan namun bagi orang-orang yang berperasaan sensitif entah seberat apa rasanya. Sudah setahun peristiwa itu berlalu, tapi pria yang pernah mengajariku bermain layang-layang maupun sepeda ini belum juga bisa melupakan sakit hatinya. Seiring waktu anak-anak nakal sudah tak begitu peduli dan tak mengatainya lagi. Kini dia juga sudah mulai sering terlihat melamun di bangku panjang di bawah pohon rindang yang ada di kebun rumahnya kira-kira sejak seminggu yang lalu. Aku yang dari tadi hanya melihatnya dari dalam rumah mencoba untuk berbicara padanya dengan sangat hati-hati takut perkataanku nanti menyinggung perasaannya.
"Assalamualaikum bang." aku mencoba memberi salam padanya, tapi dia tak menjawab.
"Pagi yang cerah gini enaknya naik sepeda keliling kota bang." Aku mencoba berbasi-basi untuk melihat tanggapannya.
Sejenak dia melihat diriku yang duduk tepat disampingnya lalu kembali menatap langit biru dan menyelam pada lamunannya. Mungkin bukan saat ini waktu yang tepat.
Sepulang sekolah aku tak melihat bang Roy ditempat biasa dia menghabiskan harinya untuk melamun.
"Baru pulang Rid?" Tiba-tiba dari belakang aku mendengar suara dan tangan seseorang memegang bahu kiriku.
"Astaghfirullah." Seketika aku memalingkan wajah.
Ternyata bang Roy yang bertanya, dia baru saja keluar dari gudang rumahnya yang memang terletak tak jauh dari jalan setapak tempatku berdiri sekarang.
"Iya bang. Abang dari mana, kok tumben?"
"Dari sana." Dia hanya menunjuk ke dalam gudang tua yang sempit dan gelap itu.
"Oh, ya sudah bang Farid mau pulang dulu." Sambil meninggalkan senyuman aku kembali berjalan menuju rumahku yang kurang bebera langkah lagi.
Aku senang karena bang Roy mau menyapaku tadi, itu tandanya ada sedikit perkembangan. Hari Jumat sepulang Sholat Jumat di masjid Al-Ikhlas aku bertemu lagi dengan bang Roy di jalan. Rupanya bang Roy yang sudah lama tak terlihat sholat berjamaah baru saja keluar dari masjid dan berjalan tepat beberapa langkah di depanku. Aku mempercepat langkahku demi bisa berbicara padanya.
Bersambung...
Terlalu singkat ya? Hehehe.. biarin deh kan masih latihan. Kalau tanya cerita selanjutnya seperti apa, errrrrrrgghhh aku juga belum tahu :P yang baca cerita ini tinggalin komentar dong! Buat yang punya tampang di foto.. hehehe aku dapet dari om Google :D gapapa kan aku pake di blogku? Gapapa kok (berlagak kayak yang punya tampang). Makasih ;)




