Path Facebook Instagram Twitter Google+

TP, NIX, Pemuda Pegasus dan Sang Touché

Bingung dengan judul di atas? Kalau ingin tau simak kisahku ini.

Hari Minggu ini jadwal yang sudah tertata rapi nampaknya tak jadi dilaksanakan. Sejak pagi hari sinar matahari sudah tertutup awan mendung dan tak ayal siang hari pun hujan mulai turun membasahi atap rumah. Tak bisa keluar rumah maka pelampiasan terbaik adalah televisi.

"Paaaaats!!!"

Tau gak bunyi apaan tuh barusan? Yup, listrik padam. Oh... mana ujan listrik mati sungguh Minggu kelabu. Males ngapa-ngapain aku masuk ke kamar dan berguling-guling di atas kasur. Tak lama lampu sudah nyala lagi. Sadar kalau sudah lama gak update berita di dunia maya aku mainkan jemari tanganku buat manggil nomor sewa internet unlimited seharian ponselku. Sejak bulan April komputerku kumat dan perlu perbaikan di bagian memori so itulah yang jadi penyebab utama menghilangnya diriku dari peredaran di dunia maya. Buka email yang sudah gak karuan bentuknya dapet pesan dari banyak orang yang terangkum di milis langganan juga dari posting temen blogger. Centang.. centang.. centang... lalu klik perintah MARK ALL AS READ!!! Hahaha :lol: beres.

Ada beberapa email yang aku baca salah satunya milik teman blogku. Baca doang lewat email kan gak seru, jadi ya sekalian aja mampir sambil ninggalin komentar ;). kakakku yang sejak tadi pagi ribut mengajak buat cari laptop di (perhatikan baik-baik) TP tepatnya di acara pameran komputer NIX. Setelah mematikan PC maka berangkatlah kami ke sana ditemani hujan yang masih rintik-rintik. Beli barang elektronik itu selalu memakan banyak waktu. Gimana mau cepet coba kalau maunya yang bermerek tapi harganya juga terjangkau di kantong? Keling-keliling dan puter-puter sampe puyeng juga gak bakalan ada yang dipengeni. Saat tak sengaja melihat sosok gadis berkerudung kuning yang tengah berjalan menghampiri aku ingin menyapanya. Aku ingin menyapa karena aku yakin itu adalah teman SMA ku dulu. Ketika dia semakin dekat aku masih belum ingat namanya, sial!

Siapa.. siapa namanya??? Aku lihat dia juga memandang ke arahku sekilas lalu wush, dia telah berlalu. Dasar pelupa, memang aku dan dia gak pernah satu kelas resmi, tapi kami pernah satu kelas saat bimbingan belajar di sekolah juga. Sudah lah lupakan. Aku segera membuntuti kakakku. Dari ujung dekat pintu masuk hingga ujung dekat pintu keluar sudah kami kelilingi sekali. Lagi-lagi aku menemukan sosok yang tak asing. Kali ini bukan sosok teman masa lalu yang aku lupa namanya seperti tadi tapi sosok yang aku kenal lewat karyanya. Aku mengenal perempuan ini sejak membaca bukunya yang berjudul Let Go. Aku masih ragu-ragu benarkah perempuan yang ku lihat ini adalah orang itu? Merasa diperhatikan gerak-geriknya orang itu pun melihat diriku dengan penasaran atau mungkin curiga karena menganggapku orang jahat.. :lol: hahaha.

Setelah lama berkeliling dan menunggu hasil pantauan spek laptop incaran yang sedang diselidiki oleh teman kakakku melalui sms tentang keunggulan merek ini dan itu kami melanjutkan lagi pencarian. Rencanaku hari ini yang ingin mengikuti bedah buku bersama Agustinus Wibowo di C2O akhirnya harus dikorbankan karena laptop idaman belum juga terbeli. Saat hendak keluar area pameran kakakku berhenti sejenak melihat-lihat stan yang berada tak jauh dari pintu keluar. Dari brosur yang ku terima nama toko di stan itu adalah Pegasus dan semua laptop dagangannya bermerek ASUS. Apa memang asus itu kependekan dari pegasus ya? Pemuda dengan jerawat besar-besar yang pandai bicara, agen pegasus, bertanya kebutuhan laptopnya yang seperti apa. Setelah menemukan laptop yang sesuai dia mulai menerangkan pada kakakku kelebihan produknya. Kepandaiannya berorasi sungguh memikat minat para calon pembeli, begitu pula aku dan kakakku. Belum kami memperoleh kata sepakat datang sepasang tiong hoa yang bertanya-tanya tentang produk yang juga kami taksir. Lagi-lagi pemuda pegasus menunjukkan kepiawaiannya berorasi. Sang pria yang berkaca mata hanya mengiyakan saja perkataan pemuda pegasus ketika sang perempuan bertanya padanya. Lalu mereka bilang ingin lihat-lihat yang lain dulu.

Kakakku masih tampak ragu ketika aku meyakinkan agar membeli yang ini saja. Pemuda pegasus berkata pada kakakku bahwa barang mereka yang telah dijelaskan pada kami hanya ada satu-satunya di sana. Dan dia berani jamin kalau sepasang tiong hoa tadi akan kembali ke sini. Ketika kami hendak pergi ternyata pasangan tiong hoa yang tadi benar-benar kembali lagi. Mereka pun jadi membeli tipe yang sama persis dengan yang ditawarkan pada kami berdua. Sekali lagi aku meyakinkan kakakku dan kali ini berhasil! Yippie. Saat kakakku mengambil uang di ATM aku sempatkan lagi bertanya semua hal yang belum aku ketahui tentang laptop yang akan kami beli itu. Lama menunggu akhirnya kakakku kembali juga. Kami masih harus menunggu lagi sebelum laptop itu bisa kami bawa pulang. Instalasi Windows 7 Professional lalu dilanjutkan dengan Driver. Di tengah penantian itu datang perempuan yang aku anggap Windhy tadi untuk membeli laptop juga. Dia duduk di sampingku satu meja karena meja yang lain juga sedang terisi. Ketika perempuan agen pegasus meminjam KTPnya aku berkata dalam hati

"Sebentar lagi aku akan tau identitasnya."

Dan benar! Agen pegasus mengulang membaca namanya yang telah tertulis di nota: Windhy Puspitadewi. Aku spontan bertanya kepadanya apa benar dia pengarang Touché (buku terbarunya) lalu dia menjawab, ya. Aku tak menyangka kalau perempuan ini adalah Windhy, dalam bayangku orangnya gak tinggi segini dan rada gak modis :P hihihi. Tapi setelah melihat kenyataannya dia cukup tinggi juga dan modis abis pakaiannya, apalagi sepatunya. Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku. Ternyata dia juga mengenaliku karena suka ngasih komentar di fb miliknya. Setelah itu aku bertanya ini dan itu mengenai bukunya, tinggal dimana kok bisa sampai sini, dan lain-lain. Namun tidak semua pertanyaanku terjawab, karena banyak juga yang dijawabnya dengan sepenggal kalimat: RAHASIA. Laptopnya selesai duluan karena miliknya sudah terinstal lebih dulu sama seperti milik sepasang tiong hoa tadi. Kak Windhy pun pamit duluan. Gak ketemu Agustinus Wibowo yang sudah terjadwal dalam rencana akhir pekan malah ketemu Windhy Puspitadewi di pameran komputer tanpa diduga-duga :)

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - TP, NIX, Pemuda Pegasus dan Sang Touché

Toko Pucuk

Aku ini… (binatang jalang?) bukaaaaaan!!! Aku ini pecinta buku yang gak terlalu akut. Cerita kali ini sebenarnya lanjutan dari cerita yang judulnya apa yah??? Entahlah aku sudah lupa akibat terlalu lama menelantarkan cerita pendahulunya.
Sesampainya tiba di kawasan perdagangan terbesar buku bekas dan “buku bajakan” (sekarang marak sekali buku laris dicetak sama penerbit yang tidak memiliki hak mencetak dari penerbit maupun penulis) di jalan Semarang, aku pun masuk ke toko pucuk (bukan nama toko yang sebenarnya). Karena letaknya saja yang berada di ujung ke-2 maka aku memberi nama sesuai keinginanku. Lalu bagaimana dengan toko yang pertama, apa aku tidak masuk? Jawabannya: ya, aku tidak main kesana karena tidak menarik sama sekali. Aku paling suka masuk ke toko yang satu ini dan bermain-main selama mungkin di dalamnya meskipun ketika keluar tak membuahkan hasil karena buku di sini mahal walau sudah bekas. Kalau sudah masuk toko buku apa pun bentuknya pasti lupa deh sama daftar buku yang dari kemarin dulu sudah tertata rapi di awang-awang (salah sendiri gak di tulis. Ribet tau!).
Saat melihat bagian bawah rak tengah dekat kasir (jangan membayangkan kasir di sini memakai komputer dan segala macam anteknya semisal alat gesek kartu dan printer ya) aku menemukan cergam berwarna terbitan gagas media. Sejak kapan gagas bikin cergam? Kisah tentang anak-anak pula? Dalam hitungan detik buku yang menyilaukan itu sudah berada di tangan dan mata sudah mulai membaca dan melihat gambar-gambar yang menghiasi buku itu. Ceritanya cukup sederhana, mengisahkan seorang anak gadis kecil yang memiliki rambut yang susah di atur (aku lupa judulnya). Gambar rambutnya lucu banget deh sampai bikin aku senyum-senyum sendiri mengingatkan akan rambut yang tumbuh di atas kepalaku. Dia begitu kesal dengan rambutnya itu. Walau sebagaimanapun usahanya pasti rambutnya itu tak mau tertata rapi. Hingga suatu hari ada angin kencang yang berhembus di kota. Ketika itu dia juga berada di sana. Usai angin berhembus dia tertawa terbahak-bahak melihat rambut orang-orang di sekitarnya. Orang-orang itu pun tertawa melihat orang lain yang berada di dekatnya. Kini tak hanya gadis kecil itu yang berambut awut-awutan :). Dia pun tak memusingkan lagi masalah rambutnya.
Selain buku itu ada lagi cergam lain yang aku lupa judul sekaligus kisahnya apa :cry: (salah sendiri gak langsung bikin posting, ya gini deh jadinya, lupa semua). Usai membaca dua cergam tadi aku masuk jauh lebih dalam. Suasana tempat ini masih sama seperti ketika terakhir aku mengunjunginya kira-kira semester pertama kelas 3 SMA. Yang paling membuatku menyesal meninggalkan toko ini beberapa tahun silam (kok kayak jadul banget sih, padahal juga baru dua tahun ninggalin bangku SMA) adalah aku tak jadi membeli Lord of The Ring yang entah itu buku yang ke berapa. Saat aku menemukan LOTR lengkap dan membolak-balik ketiganya yang ternyata versi asli terbitan warner books itu pemilik toko yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya itu mengambilkan LOTR yang dulu aku inginkan :). Dalam kurun waktu 2 tahun buku itu belum laku? Ahahaha.. rasain. Lho kok rasain? Biarin emang orangnya juga kalo jualan mahal sih :P.  Aku memegang buku itu sepintas lalu meletakkannya lagi.
“Buku Pramoedya Ananta Toer ada gak mas?” aku berbasa-basi karena memang sudah tau sejak awal bahwa tak ada satu judul pun buku Pram tersembunyi diantara rak buku di sini.
“Pram…” pemilik toko itu tertawa agak sinis namun singkat saja, “gak ada mas.”
Benar kan, dia bahkan menyebut Pram saja. Aku belum pernah bertanya Pram sang legenda pada pemilik toko ini sebelumnya. Jika pertanyaan ini aku lontarkan pada pemilik kios buku lain (tiada toko sebesar yang satu ini di sepanjang jalan Semarang) belum tentu mereka tau bahkan bisa saja mereka menyuruhku mengulang lagi pertanyaanku. Orang ini terlalu cerdas untuk berjualan buku bekas, makanya dia tidak mau menurunkan harga bukunya walau sudah bekas sekali. Aku menemukan PAPILLON. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa benar ini adalah buku yang sering disebut oleh GOLA GONG dalam baladanya bersama si ROY. Sayangnya buku ini terlalu tua dan kusam. Ditambah buku ini seri dan harganya yang baru saja aku tanyakan: Rp17.000. Baiklah aku kembalikan ke rak. Semoga kita masih bisa bertemu lagi layaknya LOTR ;).
Aku mengelilingi setiap rak buku yang tertata rapi di seluruh tembok ruangan. Aku sampai tak tau pasti apa yang ada di balik semua rak buku ini. Apa itu tembok bata, tembok bersemen, atau tembok yang bahkan begitu indah dengan balutan cat warna merah jambu? Aha aku menemukan CA BAU KAN. Hm.. bukunya masih bagus tapi masalah harga belum tentu sama bagusnya. Aku tak menyentuh sedikit pun buku itu. Beralih ke barisan di bawahnya, lalu sampingnya, dan sampingnya lagi. Ada begitu banyak buku-buku jadul yang menyita perhatianku. Mulai dari yang berbahasa Indonesia, Jawa, Belanda, Jepang, Inggris hingga buku berbahasa Rusia. Andai aku mengerti banyak bahasa ingin rasanya membeli semua buku tua itu. Sampul buku yang terbungkus kulit tanpa ilustrasi gambar membuatku merasa sedang berada di perpustakaan yang di gambarkan dalam film Harry Potter. Puas menghirup bau buku-buku tua yang menyimpan sebagian sejarah perjalanannya hingga sampai di toko pucuk ini, aku pun melangkah pergi meninggalkan mereka tetap tertata rapi di rak kayu yang menjulang tinggi hingga ke atap kayu paling rendah.
Perjalananku tak hanya sampai di sini. Begitu keluar hanya bergerak beberapa jengkal saja sudah masuk kawasan kios buku lain. Di sini tak begitu menarik namun aku bertemu dengan buku yang pasti diketahui oleh semua pecinta buku dan pecinta film. GONE WITH THE WIND! Baru tau aku bahwa dulunya buku ini di terbitkan menjadi beberapa seri, bukan seperti terbitan sekarang yang sudah dijadikan satu bundel yang tebalnya bukan main nyamannya jika dijadikan bantal. Sayangnya buku itu sudah rusak parah banyak halaman yang terlepas dan hanya tersisa jilid satu saja di situ. Meninggalkan kios itu perlu beberapa jangkah kaki untuk sampai di kios berikutnya. Dulu ketika aku masih kecil hingga terakhir aku kelas 2 SMA, sepanjang kiri kanan jalan Semarang ada kios buku. Sekarang kios yang tak berada di dalam naungan bangunan atau rombong pindah ke KAMPOENG ILMU. Satu, dua, tiga kios terlewatkan tanpa temuan buku yang menyilaukan. Yang ku temukan malah beberapa skripsi mahasiswa Universitas ***** yang di jual begitu saja di antara tumpukan buku bekas lain. Aku tak menemukan buku-buku istimewa lagi hingga hampir sampai di kios paling ujung.
Kini sampailah aku di kios paling ujung. Awan mendung sudah menyelimuti seluruh permukaan langit hingga matahari tak terlihat lagi sinarnya. Ini bukan kios. Pikirku dalam hati. Aku pernah mampir ke sini tapi tak sampai menjelajah ke dalam karena seingatku terakhir mencari buku hingga sampai di sini rasanya aku terlalu tergesa-gesa. Jika toko pucuk adalah toko pembuka yang berada di ujung jalan dari arah pasar turi maka toko yang ini berada di ujung jalanan dari arah sebaliknya berhadapan dengan SPBU. Toko ini walau cukup besar juga namun tak memiliki banyak koleksi bagus. Penjaganya juga terlalu banyak menurutku, empat orang dan kesemuanya adalah wanita. Ketika aku masuk jauh ke dalam ada pick up yang berhenti di depan toko ini. Aku tak menghiraukan dan melanjutkan penyisiranku pada rak buku terdalam. Salah seorang penjaga masuk hingga dekat sekali dengan tempatku berdiri mengamati rak. Dia mengambil dua buah buku dan berbicara lantang sambil kembali menuju orang dalam pick up. Aku menemukan buku ERNEST HEMINGWAY masih tersegel. Alih-alih ingin mendengar percakapan mereka di luar maka aku membawa buku itu dan bertanya harganya pada salah seorang dari mereka berempat.
Ternyata pick up yang berhenti tadi menawarkan beberapa buku yang masih tersegel. Jadi begini cara mereka bisa mendapatkan buku yang masih tersegel. Kalau yang ini sih bukan buku bajakan, melainkan buku sisa yang tidak laku di toko buku besar. Aku bisa melihat salah satu judulnya dan ternyata bukan buku bagus juga. Hanya buku tentang komik naruto, one piece dan lain-lain. Yang membuatku terperanjat adalah sekitar 8 buku kira-kira hanya mereka tawar dengan harga 10 ribu! Setelah berdabat demi memperoleh kesepakatan akhirnya buku-buku itu kini ikut meramaikan rak toko. Gila… yang benar saja. Aku baru saja membayar untuk satu biji buku ERNEST HEMINGWAY dengan harga sama persis dengan harga 8 buku itu. Mereka tidak sungkan sama sekali denganku. Bagaimana jika aku yang mencoba menawar buku mereka dengan harga seperti itu? Tentu mereka akan marah besar. Tapi itulah hidup setiap orang yang berusaha pasti diberi kemudahan oleh Tuhan. Tidak setiap hari juga uang akan mampir di toko ini. Dengan mendapat untung besar di setiap penjualan mereka bisa melanjutkan hidup.
Perjalanan belum berakhir. Nantikan kelanjutannya :D
Baca Selengkapnya - Toko Pucuk

Pertengkaran Kecil Minggu Dini Hari

Perkenalkan namaku Andrew. Aku mau berbagi cerita di sini. Tadi malam aku terjaga dari tidurku. Mendengar suara pertengkaran yang semakin meninggi aku pun memaksakan diri untuk terlibat.
“Jangan kau selalu menggandoli cucumu.” Kata Bapak mengintimidasi Ibu.
“Siapa yang menggandolinya? Kau tak lihat aku sedang mandi ketika dia menangis?”
“Tapi kau selalu seperti itu. Mendidik anak jadi tak mau pulang bersama Ibunya.”
Tadi sore Lily keponakankumenangis setelah merengek-rengek pada Ibunya minta diberi uang jajan namun tak segera dikasih dengan dalih tak ada yang menemani. Entahlah, aku tak mengerti jalan pikiran orangtua itu seperti apa. Sejak kecil aku tak pernah dan jarang sekali disuruh oleh orangtuaku membeli barang yang mereka butuhkan. Mereka terlampau sayang padaku dan lebih memilih menyuruh sepupuku yang usianya juga tak terpaut jauh dariku. Kini ketika masa dewasaku apa yang mereka suruhkan padaku terkadang tak aku penuhi dan hasilnya tentu saja sepupuku yang akhirnya berangkat menggantikanku. Aku sudah menduga hal itu makanya aku berani menolak. Kini hal seperti itu berulang pada keponakanku ini. Ibunya bisa saja langsung memberinya uang dan masalah tak kan pernah terjadi. Tapi lagi-lagi karena rasa sayang yang berlebihan Ibunya tak menizinkan Lily beli sendiri. Akhirnya Lily pun menangis dan berteriak-teriak seperti biasa.
Cara menangisnya benar-benar jelek, jangan ditiru ya. Nenekku yang juga merupakan nenek buyutnya Lily keluar mendengar tangisnya yang tak henti-henti. Lily kalau sudah menangis pasti ujung-ujungnya minta digendong. Nenek sudah hafal itu. Tidak ada yang biasa menggendongnya di sini tapi itu selalu Lily minta ketika ia menangis. Ibunya tidak langsung menggendongnya hingga membuat tangisnya tak juga reda. Ketika Nenek sudah duduk di hadapan Lily yang menangis barulah Ibunya mau menggendongnya. Hah.. satu lagi yang tak aku mengerti dari orangtua. Ibu Lily yang juga merupakan kakaku ini tak mau anaknya manja dan selalu minta gendong. Apa tak digendong ketika menangis sedangkan tak membiarkan anaknya membeli kebutuhannnya sendiri akan membuatnya menjadi anak yang tidak manja? Ketika menangis tadi saudara kembarnya, Lala bersama dengan sepupuku (kali ini bukan sepupu yang sama dengan sepupu di masa kecilku melainkan adiknya yang paling kecil) lah yang akhirnya berangkat karena Lily termasuk anak yang susah dibujuk ketika sudah menangis. Ibuku baru selesai mandi saat Lily sudah diam dan mendapat jajan yang diinginkannya. Tak lama Bapak pun tiba di rumah. Saat itu juga kakakku mengajak kedua anak kembarnya ikut pulang bersamanya. Lala dan Lily bersekolah di sini. Kedua orangtuanya bekerja dan hanya mampir ketika sore hari. Lala sering ikut pulang bersama Ibu dan Ayahnya. Tapi tidak demikian dengan Lily. Lily lebih suka tinggal di sini, di rumah tempat tumbuh Ibunya dulu.
Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya, yang terlihat olehku hanya Lily yang tak mau pulang dan duduk di pangkuan Ibuku. Akhirnya Lily pun tinggal setelah bujuk rayu orantuanya tak mempan. Ibu memang terlampau sayang terhadap Lily.
“Aku tak mendidiknya seperti itu. Dia memang tak mau pulang.”
“Setidaknya kau harus membujuknya agar mau pulang. Bukan malah menggandolinya agar tetap di sini.”
“Sudah ku bilang aku sedang mandi ketika ia menangis.” Air mata Ibu mulai tumpah.
“Kadang aku merasa tak kuat menjadi istrimu.”
“Kalau diberi tau selalu begitu.” Mendengar kalimat terkakhir Ibu tangan Bapak mulai ikut bicara. Aku yang sudah berada di kamar itu mencegahnya.
“Sudahlah. Tengah malam kok ribut.” Aku berkata pada mereka yang ada di situ.
“Lihat, Lily sampai terbangun.”
Aku melihat wajah Lily benar-benar pucat, tak berani menatap orang-orang yang ada di situ. Setelah hampir satu menit berdiri di tempat akhirnya Bapak pun keluar kamar. Ibu masih terisak-isak. Aku mendekati Lily dan mengecup pipinya. Seraya berkata agar tidur lagi. Pandangan matanya masih kosong. Entah sudah berapa lama dia terbangun sama seperti ku ketika mendengar pertengkaran tadi. Aku merasakan jantungnya masih berdebar kencang membuatku teringat akan masa kecilku yang sama dengan apa yang dialami oleh Lily saat ini. Aku lupa apa gerangan yang memicu pertengkaran Ibu dan Ayah waktu itu. Yang pasti akibat ulahku juga. Ibu terisak-isak sama seperti malam ini. Aku benar-benar merasa bersalah waktu itu. Hingga membuatku selalu mengingat peristiwa tersebut. Ibuku orangnya terlalu sensitif jika berbicara menyangkut kelalaian dan kesalahan dirinya. Sedangkan Bapakku orangnya keras kepala dan tak mau mendengar perkataan istri maupun anak-anaknya, maunya menang sendiri. Menjadi ketua RT pun tak pernah beliau mendiskusikan dengan keluarganya. Aku anaknya yang sudah kuliah bahkan kakakku yang sudah bekerja dan punya anak sendiri tak pernah dimintai pendapat terhadap masalah apa pun. Bapak lebih suka bertukar pendapat dengan antek-anteknya (sebutanku buat sahabat-sahabat dekatnya). Semoga Lily tak terluka perasaannya akibat melihat pertengkaran barusan. Aku menemaninya hingga terlelap. Jika sudah menikah dan punya anak nanti, aku tak mau merepotkan orangtuaku.
Baca Selengkapnya - Pertengkaran Kecil Minggu Dini Hari

Hari Minggu Bersama Nilam

Hari Minggu adalah hari yang selalu aku nanti. Selain sekolah yang libur tiap hari Minggu lah aku bisa bebas melakukan apa saja sepanjang hari. Aku sudah membuat rencana kegiatan yang akan aku kerjakan untuk mengisi Minggu ini. Usai mengerjakan PR untuk hari Senin aku langsung gosok gigi dan pergi tidur. Semoga besok cerah.

Heran deh, tiap hari Minggu tanpa suara Ibu harus mengiang-ngiang di mimpi aku selalu bisa bangun pagi sendiri tapi kenapa selain hari Minggu nggak bisa? Setelah berguling-guling sekitar lima menit yang sudah menjadi kebiasaan akhirnya aku bangun dan segera menunaikan sholat subuh. Bbrrr.. pagi ini terasa lebih dingin. Tanpa berlama-lama lagi aku segera menyudahi mandi pagiku. Ibu sedang memasak ketika aku keluar dari kamar mandi.

“Ibu lagi masak apa?” Tanyaku sambil menuang air putih ke dalam gelas lalu meneguknya habis.

“Enaknya masak apa?” Ibu balik bertanya.

“Pizza.” Jawabku asal yang berefek pada sorotan mata Ibu kepadaku.

“Kamu meledek Ibu!”

“Hihihi. Masak apa aja deh yang penting enak.”

“Bantu Ibu memasak, Nilam.” Ibu berkata saat menangkap diriku yang melenggang pergi meninggalkan dapur.

“Aku mau menyiram bunga.”

Memasak bukanlah pekerjaan yang kusuka jadi jangan harap aku akan menemani Ibuku bereksperimen dengan bahan makanan yang beragam bentuknya. Momo mendekat sambil mengeong seolah menyapaku. Sambil menunggu pot penyiram bunga penuh aku mengelus bulu-bulu Momo yang berwarna keemasan. Dia memang paling manja terhadapku. Bulu di perut dan kakinya berwarna putih. Kian hari perutnya makin gemuk. Pernah aku bertanya pada Ayah tentang perut Momo itu, lalu Ayah menyimpulkan bahwa Momo sedang hamil muda. Aku tidak memiliki kucing peliharaan selain Momo di rumah. Bagaimana dia bisa hamil? Ayah mengingatkan bahwa Momo sering tidak kelihatan siang hingga sore hari. Lalu dia akan kembali terlihat di rumah ketika malam hingga pagi hari. Beberapa hari lalu Ayah berkata bahwa mungkin dalam waktu dekat Momo akan segera melahirkan. Betapa senangnya aku mendengar analisis dari Ayah.

Ayah tiba di rumah setelah puas lari pagi mengelilingi kompleks. Semua bunga yang ku tanam sendiri juga bonsai milik Ayah yang beragam bentuknya selesai ku siram. Ibu juga sudah selesai memasak. Kami bertiga makan bersama di meja makan belakang yang letaknya di areal kebun. Menu pagi ini untukku adalah udang goreng tepung dan nasi goreng ekstra pedas tak lupa ditambah dengan segelas susu sapi. Menu di piring Ibu sama denganku sedangkan menu milik Ayah porsi nasi gorengnya lebih banyak dan udang goreng tepungnya juga lebih besar dari punyaku. Gelas Ibu berisi teh hangat dan gelas Ayah berisi kopi susu. Bila tadi meja makan sudah diatur rapi sedemikian rupa oleh Ibu untuk menghidangkan sarapan pagi hari ini maka ketika selesai akulah yang bertugas membereskan semuanya lalu mencuci bersih perabotan makannya juga. Usai merapikan semuanya aku bergabung bersama Ayah dan Ibu di ruang keluarga.

“Tadi Nilam minta Ibu memasak pizza.” Ibu mengadu pada Ayah.

“Kenapa nggak dibuatkan?” Kali ini Ayah yang mendapat sorotan mata Ibu.

“Ayah anak sama saja.” Kata ibu sambil mendesah.

Ayah menatapku lalu tersenyum sedangkan aku hanya tertawa geli melihat tingkah Ibu yang lucu dan akhirnya Ibu juga Ayah ikut tertawa bersama-sama. Percakapan pun terus berlanjut dan bersambung ke hal-hal lain. Andai tiap hari bisa seperti ini. Ngobrol santai bertiga dan tertawa bersama sepanjang hari. Hari Minggu memang indah.

 

Ini adalah proyek menulis yang ku beri nama Serial Minggu. Rencananya dalam judul-judul berikutnya akan ada cerita-cerita singkat mengenai hari Minggu bagi tiap orang yang berbeda atau bisa saja berlanjut. Intinya setiap cerita selalu mengisahkan hari Minggu yang mereka alami. Semoga bisa menghibur :)

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Hari Minggu Bersama Nilam