Path Facebook Instagram Twitter Google+

Burung Dalam Sangkar

I want to lead my life to the absolute what I can be
To feel the wind
To touch the star
...
Life is an adventures 

 

Tiap kali mendengar kalimat dari sebuah iklan susu anak diatas aku selalu menirukannya dan yang ku hafal hanya empat baris tersebut :D hehe. Hidup adalah petualangan, benarkah seperti itu adanya?

Manusia adalah khalifah di bumi, pemimpin dari semua makhluk ciptaan Tuhan. Apa kamu sudah menemukan arti dari hidupmu? Kadang aku berpikir sebenarnya untuk apa manusia itu hidup. Apakah yang dinamakan hidup itu hanya melakukan aktivitas yang selalu kita jalani tiap harinya? Bekerja, beribadah, belajar, bermain, bersantai, dan masih banyak lagi. Jika memang seperti itu yang dinamakan hidup maka sekarang aku ada di titik jenuh dalam menjalani kehidupanku. Kehidupan yang aku lakukan selama satu setengah tahun ini tak semenarik dahulu ketika masih duduk di bangku sekolah. Kegiatan yang sama diselingi obrolan yang sama dengan orang-orang yang sama juga tempat yang itu-itu saja. Bayangkan dan rasakan jika kamu yang terbiasa bergaul dengan banyak orang sekarang ditempatkan dalam pergaulan dengan selusin orang saja, kamu yang terbiasa bertukar pikiran tentang segala hal sekarang terfokus pada satu sudut, kamu yang terbiasa berkeliaran di tempat luas dikurung dalam satu ruangan yang tak pernah berubah tata letaknya 1 meter pun. Sampai saat ini aku masih melakukan pelampiasan atas kejenuhanku dengan membaca dan menulis serta tak begitu memusingkan tugas kuliah yang selalu menumpuk tak terselesaikan dengan bagus. Hidupku saat ini tak ubahnya burung dalam sangkar.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Burung Dalam Sangkar

Aku Mau Potong Rambut!

"Aku mau potong rambuuuuuuut!" teriak Ninda si bungsu dengan penuh amarah.

Sejak melihat kakak keduaku yang pulang ke rumah dengan potongan rambut baru anak ini tak henti-hentinya merengek pada ibunya yang merupakan kakak tertuaku untuk segera mengantarnya ke tempat orang merapikan rambut. Dasar anak kecil, kalau sudah maunya tidak akan mau walau dibujuk dengan cara apapun juga. Beda dengan kakaknya, Nanda. Walau mereka kembar tapi Nanda masih bisa dibujuk. Ibunya berjanji akan mengajak mereka berdua ke salon besok sore. Walau masih menggerutu akhirnya anak itu diam juga dengan sendirinya setelah ibu dan ayahnya pulang. Dua keponakan kembarku ini memang tinggal di rumah orangtuaku, karena ibu dan ayahnya bekerja maka mereka disekolahkan disini. Mereka baru diajak pulang pada hari Sabtu sampai Minggu juga liburan sekolah. Si bungsu Ninda memang maunya menang sendiri dan kakaknya Nanda terkadang harus mengalah padanya. Jika sedang berebut mainan terkadang mereka juga sering bertengkar yang pada ujungnya salah satu pasti ada yang menangis karena tidak memperolah mainan yang diinginkan. Kalau mereka tidak ada dirumah rasanya ada yang kurang pas.

"Mbak, aku mau potong kayak mbak Dwi." lagi-lagi Ninda merajuk pada kakakku.
"Iya, besok ke salon sama ibumu."
"Gak mau. Sekarang!"
"Sekarang itu waktunya tidur. Salonnya sudah tutup."
"Hm... mesti."

 Ketika semua sudah terlelap kedua anak yang sudah biasa tidur malam ini mulai melakukan aksinya. Di depan cermin mereka telah mempersiapkan peralatan ajaib mereka. Menurut penuturan Nanda sih, kejadiannya seperti ini.

"Aku mau potong rambutku sendiri kak." si bungsu yang tengah bercermin sambil menyisir rambut mulai menuturkan rencananya pada sang kakak.
"Jangan dik, nanti jelek."
"Bagus kok."

Karena begitu penasaran dengan apa yang dilakukan adiknya ini Nanda hanya melihat di sampingnya. Sekarang sisir sudah tergeletak di lantai dan benda berujung logam tajam yang biasa digunakan untuk memotong kertas oleh mereka berdua telah mantap di dalam genggaman si bungsu. Kres kres kres. Sehelai demi sehelai rambut si bungsu mulai berguguran. Sang kakak yang berada di sampingnya hanya mengingatkan tapi lupa untuk memberi tau aku atau pun orang-orang yang ada di rumah.

"Ayo kak aku potong sekalian." si bungsu mulai membujuk sang kakak. Tanpa menunggu jawaban dia langsung memainkan benda ajaibnya itu pada sisi kiri rambut kakaknya.
"Jangan dik, nanti di marahin mas Yayan." Nanda yang mulai tersadar dan tidak mau rambutnya jadi jelek seperti rambut adiknya yang sudah mulai tak berbentuk mencoba menghindari benda ajaib adiknya.
"Ya sudah kalau gak mau." dia meneruskan lagi usahanya untuk memotong rambutnya supaya terlihat seperti rambut tantenya, kakakku.

Setelah tersadar bahwa rambutnya tak bisa seperti rambut kakakku malah terlihat begitu mengerikan, akhirnya dia membangunkan kakeknya. Bapakku yang terbangun dari mimpi indahnya begitu kaget dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat cucunya yang satu ini. Dasar anak bandel tidak mau menuruti perkataan ibunya hihihi jadi begini deh akhirnya. Setelah berganti pakaian mereka berdua pun tidur. Dan keesokan paginya begitu anak itu sudah bangun, bapakku langsung merapikan rambutnya yang tidak karuan menjadi potongan rambut anak laki-laki karena memang sudah tidak bisa lagi di bentuk menjadi potongan model rambut anak perempuan. Para tetangga pun yang melihatnya tadi pagi juga terheran-heran, karena kemarin waktu mainan masih panjang rambutnya. Saat mau berangkat ke sekolah pun dia jadi uring-uringan dan tidak mau ke sekolah.

"Ayo sekolah." bujuk ibuku padanya.
"Iya dik ayo sekolah." kakaknya pun ikut mengajaknya berangkat sekolah.
"Gak mau rambutku jelek." si bungsu menjawab sambil nangis dan berbaring di kursi.

Setelah lumayan lama dibujuk akhirnya berangkat juga dia ke sekolah. Menurut cerita ibuku yang mengantarkannya sekolah karena tak mau berangkat kalau hanya berdua dengan kakaknya, gurunya memujinya cantik dan dia pun tak jadi malu di sekolah :).

 

Hihihi.. kalau ingat kejadian ini selalu membuatku tertawa :lol:. Kejadian ini sudah lama berlalu ketika mereka berdua masih TK kecil, tapi aku baru sempat menuliskan kisahnya sekarang :P.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Aku Mau Potong Rambut!

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 3)

Semalam aku sudah mempersiapkan sepedaku dengan baik agar terhindar dari kemungkinan yang tidak diinginkan karena rencananya kami akan berkeliling di pusat kota. Selepas sholat subuh, aku melihat bang Roy yang sudah begitu siap dengan perlengkapan tempurnya lengkap. Aku yang tak mau ketinggalan segera berpamitan pada Ibu dan Bapak. Pukul 5 tepat kami mulai mengayuh sepeda menuju pusat kota yang masih gelap. Menyapa beberapa orang yang tengah olah raga pagi maupun akan pergi ke pasar. Begitu memasuki jalan raya kami juga bertemu dengan para pengendara sepeda lain dan kami pun bergabung bersama mereka menuju kota. Minggu pagi memang enak buat bersepeda, selain jalanan tidak macet seperti hari biasa banyak orang juga yang menyempatkan hari Minggunya itu untuk melancong ke taman-taman kota.

Setelah lelah bersepeda keliling kota, kami pun menuju taman bunga yang ada di jalan Sam Ratulangi. Sungguh begitu ramai taman itu ketika kami tiba. Tepat di tengah-tengah aku melihat beberapa orang sedang melakukan senam aerobik bersama yang dipimpin oleh seorang instruktur. Lain lagi di sebelah selatan, disana banyak anak kecil yang sedang bermain-main karena memang kawasan itu adalah area anak yang terdapat banyak macam permainan. Di sebelah timur adalah tempat bersantai bagi sebagian orang setelah capek berolahraga yang menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman. Lalu disisi utara hingga ke barat adalah tempat terindah yang menjadi rujukan nama dari taman itu. Barisan bunga berjajar rapi mulai dari mawar, melati, bunga sepatu, dan masih banyak lagi. Disana banyak juga anak kecil yang asyik berlarian ingin menangkap kupu-kupu, ada juga satu dua orang yang sedang bergaya di depan seorang tukang foto keliling, dan tidak ketinggalan juga banyak muda-mudi yang berjalan dengan formasi dua orang bergandengan tangan satu sama lain, yang satu tertawa lepas mendengar lelucon dari yang lain.

Disana aku ditraktir makan bakso Malang yang rasanya memang mak nyus. Bang Roy mulai bercerita tentang kekasihnya Tia yang menikah dengan orang lain hingga membuatnya begitu terpukul. Aku menyimak setiap kata yang keluar dari isi hatinya. Dia tidak tau harus berbuat apa setelah mendengar kejadian itu.

"Rasanya ingin mati saja Rid." matanya yang bulat memandangku lekat-lekat.
"Istighfar bang. Mungkin kak Tia bukan jodoh abang, Allah tau yang terbaik buat abang." aku mencoba menghiburnya.

Setelah puas bercerita tentang rasa sakit yang selama ini dikuburnya dalam-dalam padaku, kami pun kembali mengayuh sepeda kembali ke rumah.

 

Oke.. sepertinya gini aja deh akhir ceritanya :cry:. Aku gak tau mau dikasih konflik seperti apa. Dan lagi sepertinya aku memang gak pandai merangkai kata deh :(. Lain kali deh bikin cerita lagi yang lebih seru :P.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 3)

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 2)

Belum juga aku sampai di dekatnya tiba-tiba gerombolan anak nakal berlari menuju bang Roy lalu berteriak-teriak kencang, "Orang gilaaa.. orang gilaaaa..."

Aku yang jadi naik darah melihat ulah mereka berlari kesana ingin memberi mereka pelajaran, namun bang Roy sudah menakut-nakuti mereka. Tiga anak berlari ke arah kanan menuju gang kecil dan yang lain berlari ke arah kiri masuk ke salah satu rumah yang mungkin tempat tinggal salah satu dari mereka. Bang Roy yang mengetahui aku ada tepat di belakangnya tersenyum dan menungguku untuk melangkah pulang bersamanya.

"Tadi kenapa bang?" 
"Biasa anak-anak nakal." Dia menjawab sambil tersenyum simpul.

Syukurlah, ternyata bang Roy tidak benar-benar marah. Aku semakin yakin bahwa bang Roy memang tidak gila, dia hanya mengalami sedikit stres yang membuatnya berperilaku sedikit nyleneh hingga melakukan usaha bunuh diri itu. Ini lah bang Roy yang aku kenal selama ini, bang Roy yang murah senyum. Sesampainya di rumah aku bercerita pada Ibu tentang keadaan bang Roy yang sudah membaik seperti dulu lagi. Ibu senang mendengarnya dan menyuruhku memberikan oleh-oleh yang kemarin dibawakan oleh paman dari desa pada bang Roy.

"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab bi Inem dengan suara cempreng yang begitu keras.
Aku bertanya pada bi Inem, "Bang Roy ada bi? Ini mau aku kasih oleh-oleh Wingko Babat dari pamanku."
"Ada den, tunggu sebentar ya. Oh iya, oleh-olehnya biar bibi aja yang bawain." bi Inem pun masuk kembali ke dalam rumah bersama oleh-oleh yang ku bawa.

Tak sampai satu menit bang Roy sudah ada di depanku. Dia mengajakku untuk ngobrol di tempat yang biasa dia gunakan untuk melamun sebelum dia kembali menjadi ceria seperti sekarang. Sambil makan oleh-oleh yang kubawakan bang Roy mulai bercerita.

"Enak banget Rid. Beli dimana?"
"Oleh-oleh dari paman bang."
"Oh... makasih ya."
"Iya bang sama-sama."

Di akhir pembicaraan bang Roy mengajakku bersepeda hari Minggu besok. Aku langsung saja mengiyakan ajakannya karena memang sudah lama kami tak bersepeda bersama.

Bersambung...

 

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit

Fiuuuuh... cerita selanjutnya gimana lagi ya enaknya??? Tauk deh pikir ntar aja :P.

Posted via email from Nyol's Posterous

Baca Selengkapnya - Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 2)